Ia mengaku telah mendengar lagu tersebut dan melihatnya sebagai bentuk respons publik terhadap sosok Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia.
“Ini namanya hasil kreativitas anak-anak muda. Sekaligus menjadi bukti bahwa Pak Bahlil mendapat respons yang baik dari masyarakat Indonesia,” ungkapnya.
Citra Positif dan Resonansi Kebijakan
Menurut Umar, munculnya respons positif tersebut tidak lepas dari kebijakan yang dinilai berdampak langsung bagi masyarakat. Salah satunya adalah stabilitas harga bahan bakar minyak di tengah gejolak global.
“Di tengah konflik Timur Tengah yang memicu kenaikan harga energi, pemerintah justru mempertahankan harga BBM bersubsidi seperti Pertalite dan solar. Itu menjadi kelegaan bagi masyarakat,” jelasnya.
Ia menilai, kondisi tersebut turut membentuk persepsi positif publik yang kemudian terefleksi dalam tren digital seperti lagu MBG.
“Generasi Z merespons baik Pak Bahlil dan memberikan citra positif terhadap Partai Golkar,” tambahnya.
Golkar Buka Ruang untuk Generasi Muda
Lebih jauh, Umar menegaskan bahwa Partai Golkar terus membuka ruang bagi anak muda untuk terlibat dalam dunia politik melalui berbagai organisasi sayap dan ormas pendiri.
Di antaranya Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG), Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI), Kesatuan Perempuan Partai Golkar (KPPG), hingga organisasi seperti Kosgoro 1957, SOKSI, MKGR, dan lainnya.










