Lelaki yang Melukis Esok Jadi Kemarin

oleh -8 views

Cerpen Karya: Nuzul Ilmiawan

Pelataran parkir itu luas, tapi sepi. Mall sudah tutup pukul sepuluh tadi. Hanya ada empat mobil di sana, tidak tahu pemiliknya ada di mana. Seorang lelaki botak tegak berdiri di bawah tiang lampu, namanya Barat. Anaknya mati di situ, tepat di mana ia sedang meletakkan kakinya. Sudah lama, tapi segala kenangannya selalu terasa baru dan kian hangat setiap harinya.

Demikianlah bertahun-tahun dia mencerna akal dari seseorang yang tiba-tiba membawa senjata dan menembakkannya ke seluruh arah secara sembarang saja. Tak ada target utama. Mungkin itu kesenangannya saja, pikir Barat, tapi bagaimana bisa seseorang sanggup melakukan itu?

Tentu dia seseorang yang sudah putus sarafnya. Tapi, polisi tak dapat menarik satu kesimpulan pun. Karena sosoknya langsung ditembak mati di tempat selepas dia bertanggung jawab atas tiga nyawa yang melayang karena pucuk senapan mesinnya. Salah satu di antara tiga nyawa itu adalah anak Barat yang masih remaja.

Baca Juga  Israel Terus Langgar Gencatan Senjata, Hamas: Ada Konsekuensi Serius

Sayangnya, pada hari anaknya mati, Barat sedang kesal dengan anaknya yang membuang kesempatan untuk sekolah dokter di kampus bergengsi di luar kota, dan lebih memilih untuk belajar sastra di kotanya sendiri. Kenyataannya, Barat sendiri adalah lulusan sastra, dan ia tahu betul, pendidikannya itu tak membawanya ke mana-mana. Oleh sebab itu ia kecewa dengan keputusan anak perempuannya.

No More Posts Available.

No more pages to load.