Madilog di Zaman yang Kehilangan Nalar

oleh -115 views

Oleh: Ady Amar, Kolumnis

Tan Malaka menulis Madilog—singkatan dari Materialisme, Dialektika, dan Logika—pada 1942–1943, dalam keadaan bersembunyi, menggunakan nama samaran, di tengah situasi yang setiap saat bisa berujung penangkapan atau kematian. Buku itu tidak lahir dari ruang akademik yang tenang, melainkan dari kegelisahan mendalam seorang pejuang yang melihat lebih jauh, bahwa kemerdekaan politik tidak otomatis melahirkan kemerdekaan berpikir.

Kegelisahan itu bukan dugaan belaka. Ia adalah pembacaan sejarah.

Sejarawan Belanda Harry A. Poeze—yang mendedikasikan puluhan tahun hidupnya menelusuri jejak Tan Malaka melalui arsip kolonial, dokumen Komintern, hingga catatan pergerakan Asia Tenggara—bukanlah peneliti sembarangan. Dua karyanya yang monumental, Tan Malaka: Pergulatan Menuju Republik (1897–1925) dan Tan Malaka: Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia (1925–1949),
menempatkan Poeze sebagai sejarawan paling otoritatif dalam membaca sosok Tan Malaka secara utuh.

Dalam pembacaan Poeze, Madilog bukan ditulis untuk merebut kekuasaan, melainkan untuk membentengi cara berpikir bangsa. Tan Malaka tidak sedang menyiapkan partai, melainkan menyiapkan manusia—agar republik yang lahir kelak tidak kembali terjerumus ke dalam irasionalitas lama, feodalisme baru, dan mitos yang membius kesadaran.

No More Posts Available.

No more pages to load.