Para pengamat Barat sering menggambarkan peristiwa tersebut sebagai the killing field, khususnya di Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, dan Sumatra Utara, dengan korban jiwa mencecah antara 500.000-1 juta.
Akibat wafatnya para jenderal TNI-AD itu pula, selama tiga bulan pada tahun berikutnya (Januari, Februari, dan Maret 1966), mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi terkenal melakukan demonstrasi jalanan.
Mereka menuntut agar PKI dibubarkan dan harga-harga diturunkan. Mahasiswa yang paling radikal bahkan menuntut agar Presiden Soekarno juga diadili karena dipandang ikut bertanggung jawab terhadap tragedi nasional pada ”malam jahanam” tersebut.
Pertarungan
Bagi generasi yang mengalami dan menyaksikan langsung, peristiwa G-30-S 1965 merupakan masalah eksistensi diri, to be or not to be.
Suasana politik pada 1960-an telah mendorong semua anak bangsa memosisikan dirinya sebagai ”kawan” atau ”lawan”, dan bahkan ”dibunuh” atau ”membunuh”.
Akan tetapi, generasi milenial, yang tidak mengalami peristiwa G-30-S 1965 perlu memahami secara jernih peristiwa tersebut.
Sudah banyak studi tentang keadaan politik Indonesia pada 1960-an, terutama menjelang terjadinya peristiwa G-30-S 1965.
Para sarjana sepakat, telah terjadi triangle struggle (pertarungan segitiga) antara PKI di satu sisi dengan TNI-AD di sisi lain, dengan Presiden Soekarno berdiri di tengah-tengah sebagai penyeimbang.





