Pihak-pihak lain yang berada di luar ketiga kekuatan politik yang sedang bertarung itu jelas hanyalah penggembira.
Umat Islam Indonesia pada umumnya mendukung TNI-AD yang trauma dengan kebangkitan PKI pascaperistiwa Madiun 1948.
Pada 1960-an, PKI sudah menjadi kekuatan komunis ketiga terbesar di dunia setelah Uni Soviet dan China, dengan klaim jumlah anggota 30 juta orang.
Negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat dan Inggris, juga mendukung TNI-AD karena jengkel dengan politik Presiden Soekarno yang antinekolim (neo kolonialisme dan imperialisme).
Mereka juga khawatir akan efek kartu domino kekuatan komunis di Indonesia dan Vietnam, yang akan mendominasi jagat politik kiri di Asia Tenggara.
Manakala PKI jelas didukung negara-negara berideologi komunis, khususnya China, yang sejak 1950-1960-an mengalami friksi ideologi dengan Uni Soviet.
Pertarungan segi tiga dalam jagat politik Indonesia mulai goyah ketika pada Agustus 1965, Presiden Soekarno mendadak sakit.
Segera muncul rumor dan desas-desus politik tentang sakitnya Presiden, Sang Penyeimbang. Bahkan dia diprediksi bakal meninggal dunia.
Para pengamat Barat membuat analogi jitu untuk membayangkan sebuah pertandingan tinju: apa yang akan berlaku jika wasitnya sakit atau meninggal, atau wasitnya bersikap berat sebelah?





