Oleh: Tony Rosyid, Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa
PascaOrde Baru, NU dikenal sebagai ormas yang selalu dekat dan mendukung penuh kekuasaan. Siapapun penguasanya, NU support. Support terhadap kekuasaan ini seringkali dimaknai sebagai bagian dari sikap moderasi NU. Soal ini, NU punya banyak dalil, baik dalil normatif maupun argumentasi logis dan realistisnya.
Penguasa sangat punya kepentingan terhadap NU, mengingat NU adalah ormas terbesar dengan basis massa sekitar 90 jutaan. Bagi penguasa, dukungan NU menjadi legitimasi dan kekuatan sosial-politik cukup signifikan. Apalagi, sebagian warga NU memiliki militansi yang cukup tinggi.
PKB, partai dengan basis pendukung terbesar dari warga NU juga ikut menikmati efek madunya. PKB selalu punya daya tawar untuk berada di dalam kekuasaan. Meski sebelumnya berseberangan, bahkan bersaing saat pilpres, PKB selalu mendapatkan peluang untuk masuk di barisan koalisi penguasa. Ini tak lepas dari faktor ke-Nu-an PKB.
Menolak PKB masuk dalam kekuasaan berpotensi resisten terhadap warga Nahdhiyin mengingat PKB tak lepas, baik secara historis maupun emosional dengan warga Nahdhiyin. Boleh dibilang PKB itu Nahdhiyin. Meski Nahdhiyin belum tentu PKB. Karena sebagian Nahdhiyin tersebar di berbagai partai. Persoalan ini pernah menjadi tema konflik antara Muhaimin Iskandar selaku ketua umum PKB dengan Kiai Yahya Staquf sebagai ketua PBNU.











