Manusia Indonesia dan Hasyim Asy’ari yang Bersyukur Dipecat DKPP

oleh -431 views

Keenam sifat tersebut adalah: hipokrit atau munafik, enggan bertanggung jawab atas perbuatan dan keputusannya, bersifat dan berperilaku feodal, percaya takhayul, artistik, dan bermental (karakter) lemah.

Ketika pada 1982, Mochtar Lubis diminta merefleksikan kembali ”manusia Indonesia”, menurut catatan ST Sularto (Kompas, 21 Juli 2008), dengan tegas Mochtar Lubis mengatakan tidak ada perubahan. Bahkan, menurut Mochtar Lubis, makin parah.

Jauh sebelum kritik Mochtar Lubis, pada 1956, Bung Karno dengan bahasa berbeda juga sudah mengingatkan.

Melalui pidato pada ulang tahun Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 1956, Bung Karno menegaskan bahwa kolonialisme Hindia-Belanda telah membentuk mentalitas pecundang, rendah diri, penuh perasaan tak berdaya, tak percaya diri.

Karena itu, Bung Karno menyerukan revolusi mental. Tanpa kekayaan mental, pembangunan ekonomi tak akan mendatangkan kesejahteraan bersama.

Baca Juga  Israel Luncurkan Sistem Pendaftaran Tanah di Tepi Barat, Jurus Baru Aneksasi Wilayah Palestina

Kala itu, dekade 1950-an, korupsi, kolusi dan nepotisme belum menggejala. Bangsa Indonesia kala itu dihadapkan perbedaan kepentingan dan pertikaian antarkelompok politik secara tajam.

Pemilu 1955 memang berhasil membentuk Konstituante, badan atau dewan yang bertugas membentuk konstitusi baru untuk menggantikan Undang-Undang Dasar Sementara (UUDS) 1950. Konstituante mulai bersidang pada November 1956.

No More Posts Available.

No more pages to load.