Manusia Tidak Dirancang untuk Bahagia, Jadi buat Apa Mengejar Kebahagiaan?

oleh -220 views

[carousel_slide id=’12211′]

Oleh: Rafael EubaConsultant and Senior Lecturer in Old Age Psychiatry, King’s College London

***

Industri untuk menciptakan kebahagiaan dan pikiran positif adalah sebuah industri besar yang nilainya diperkirakan mencapai US$ 11 miliar (Rp 153 triliun) per tahun.

Industri ini telah membantu menciptakan khayalan bahwa kebahagiaan adalah sebuah tujuan yang dapat dicapai.

Mengejar mimpi kebahagiaan adalah konsep ala Amerika Serikat yang diekspor ke seluruh dunia lewat budaya pop. Memang, hak “mengejar kebahagiaan” adalah salah satu “hak yang tidak dapat dicabut” di AS.

Sayangnya, harapan ini tidak sesuai dengan kenyataan kehidupan.

Saat kita berhasil memenuhi semua kebutuhan materi dan biologis pun, kebahagiaan yang lestari akan tetap menjadi tujuan yang sifatnya teori dan sulit dipahami.

Baca Juga  AS–Iran Siap Lanjutkan Perundingan di Islamabad, Fokus Nuklir dan Selat Hormuz

Abdurrahman III, Khalifah Kordoba pada abad kesepuluh, mengalami hal ini. Dia salah satu orang paling berkuasa pada masanya, memiliki prestasi bidang militer dan budaya, serta mendapatkan kesenangan duniawi dari dua harem.

Namun, menjelang akhir hayatnya, Abdurrahman III memutuskan untuk menghitung jumlah hari ia merasa bahagia. Ia menghitung hanya ada 14 hari.

Kebahagiaan, menurut penyair Brasil, Vinicius de Moraes, adalah “bulu yang melayang di udara. Ia terbang cepat, tapi tidak lama”.