Porostimur.com, Washington – Kebijakan agresif pemerintahan Amerika Serikat dalam konflik dengan Iran memicu gelombang penolakan dari dalam negeri. Mayoritas warga kini disebut mendukung pemakzulan Presiden Donald Trump seiring memanasnya situasi geopolitik tersebut.
Berdasarkan laporan Newsweek, sebuah jajak pendapat terbaru menunjukkan 52 persen pemilih terdaftar mendukung pemakzulan Trump, sementara 40 persen lainnya menolak. Dukungan ini bahkan menembus basis konstituennya, di mana satu dari tujuh pemilih Partai Republik turut menyatakan persetujuan.
Survei terhadap 790 responden itu diinisiasi oleh John Bonifaz bersama firma jajak pendapat pimpinan Celinda Lake. Bonifaz menyebut hasil ini sebagai fenomena politik yang tidak lazim.
“Ini adalah hasil yang belum pernah terjadi sebelumnya pada tahap awal masa jabatan presiden,” ujarnya dalam konferensi pers, Senin (6/4/2026).
Ia menambahkan, meski periode ini dihitung sebagai masa jabatan kedua Trump, perubahan sikap publik berlangsung sangat cepat dibandingkan presiden lain yang pernah menghadapi ancaman pemakzulan, seperti Richard Nixon.
Imbas Retorika Perang dan Krisis Hormuz
Tingginya dorongan pemakzulan berkorelasi dengan kebijakan Trump terhadap Iran. Sejumlah keputusan dinilai tidak hanya mengubah dinamika politik di Washington, tetapi juga menggerus kepercayaan publik.









