Oleh: A. Malik Ibrahim, Penulis dan politisi
“Kesadaran jiwa manusia dibentuk oleh dan untuk kekuasaan.”
— Michel Foucault
Ada masa ketika tubuh perempuan dianggap sekadar perkara biologis: kulit, wajah, lekuk, usia. Tetapi dalam sejarah kekuasaan, tubuh tak pernah sesederhana itu. Ia selalu menjadi tempat di mana norma ditanamkan, kehendak dipertontonkan, kepatuhan diproduksi, dan kekuasaan bekerja tanpa selalu harus memperlihatkan wajahnya.
Karena itu, istilah “tante cantik” menarik untuk dibaca lebih jauh. Ia bukan sekadar pujian atas paras perempuan yang telah matang. Ia adalah produk wacana—sebuah konstruksi sosial yang lahir dari tatapan, standar budaya, media, dan terutama relasi kuasa.
Dalam perspektif Michel Foucault, tubuh bukan ruang yang bebas dari kekuasaan. Tubuh justru menjadi salah satu arena utama tempat kekuasaan bekerja. Ia diatur, diawasi, didisiplinkan, bahkan dibuat percaya bahwa disiplin tersebut merupakan kehendaknya sendiri.
Maka, ketika seorang perempuan dipuji karena tetap cantik di usia matang, pertanyaannya bukan semata-mata: cantik menurut siapa? Lebih jauh: siapa yang menentukan ukuran kecantikan itu, dan untuk kepentingan apa?
Standar kecantikan tidak lahir dari ruang kosong. Ia diproduksi oleh media, industri kecantikan, budaya patriarki, dan tatapan sosial yang secara perlahan membentuk kesadaran perempuan tentang bagaimana tubuhnya harus ditampilkan.









