Postscriptum Branding Ternate: Ketika Kota Rempah Harus Berbuah

oleh -4 views

Oleh A. Malik Ibrahim, Penulis dan politisi

Mungkinkah Ternate benar-benar menjadi Kota Rempah? Dan nilai ikonik apa yang sesungguhnya hendak di-rebranding untuk menopang daya saing kota?

Pertanyaan itu pernah saya ajukan lima tahun silam dalam sebuah diskusi tentang penguatan city branding Ternate. Kini, setelah gagasan Kota Rempah semakin mendapat tempat dalam narasi pembangunan, pertanyaan tersebut justru terasa semakin relevan.

Sebab, tanpa rempah, Ternate mungkin kehilangan sebagian wajah intelektualnya di mata dunia. Tetapi tanpa alam yang subur, Ternate juga berisiko kehilangan masa depannya sendiri.

Rempah bukan sekadar komoditas. Ia adalah memori, identitas, sejarah, sekaligus pintu masuk Ternate ke dalam percakapan peradaban dunia. Namun, sejarah yang besar tidak cukup hanya diceritakan. Ia harus diterjemahkan menjadi kebijakan yang hidup, ekonomi yang tumbuh, lingkungan yang terjaga, dan kesejahteraan yang dapat dirasakan warga.

Baca Juga  Jalur Hukum KDMP

Di sinilah persoalan sesungguhnya bermula.

Publik tentu tidak hanya menunggu slogan Kota Rempah. Publik ingin melihat wujud implementasinya. Apakah rempah yang dilekatkan sebagai identitas Ternate hanya menjadi label, merek, dan ornamen promosi? Ataukah ia benar-benar telah menjadi paradigma yang menggerakkan kebijakan seluruh perangkat daerah?

No More Posts Available.

No more pages to load.