Mbak Sri dan Dik Sri Matroshka

oleh -56 views
Link Banner

Oleh: Tedjabayu Sudjojono, aktivis organisasi pemuda CGMI, ditangkap Oktober 1965, dibuang ke Pulau Buru

Aku mencoba untuk membuka kembali catatan-catatan ketika masih berada di Pulau Buru, catatan yang begitu banyak tentang ilmu pengetahuan, baik fisika, biologi maupun geologi, ilmu favoritku.

Demikian pula asas-asas mekanika yang kutulis kembali berdasarkan daya ingat kolektif kami-kami yang tadinya murid-murid eksakta, sambil melatih kemampuan Bahasa Inggrisku kembali.

Ada juga buku kecil terbitan BPK yang bisa kuselamatkan sampai ke rumah, yakni Doa Setiap Hari yang kuterima dari Pendeta Matatula. Di situ aku catat semua tanggal yang penting, data-data tentang peristiwa dan catatan-catatan lainnya. Catatan-catatan itu selamat, lolos dari intaian Asintel/Ops dan anak buahnya.

Link Banner

Salah satu staf Asintel/Ops, seorang letnan satu memeriksa barang-barang bawaanku sebelum naik LCVP untuk akhirnya melakukan embarkasi ke KRI Tanjung Pandan. Ia membaca kutipan ayat-ayat Matius 11: 28 di halaman judul buku saku yang kutulis dengan bolpoin warna merah, “..come unto Me, all ye that labour and are heavy laden and I will give you rest.”

Baca Juga  Nitizen Asal Kepulaun Sula Ramai-Ramai Merundung Sejumlah Ketua OKP

Ia langsung menjabat tanganku dan bilang dengan tersenyum ramah. Tanpa memeriksa buku-buku lain yang penuh dengan catatan-catatan peristiwa yang kuanggap penting.

Ia memerintahkan kepada bawahannya untuk tidak memeriksa isi plunjezak buatan militer Uni Soviet itu. Coba kalau ia periksa lainnya, mungkin akan bisa dirampas semua. “Mas, tetaplah ale taat beribadah ya? Terus baca itu doa. Selamat jalan!”

Dalam hati aku bilang, ‘Slameet, slamet!’ dan terselamatkanlah buku-buku catatanku! Catatan harianku, catatan fisika, serta catatan teori musik hasil kuliah kami dengan ‘guru besar’ Pak Subronto K. Atmodjo, doktor musik pertama di Indonesia. Juga catatan kuliah arsitektur dengan pengajar Mas Samiyono Samyudo, catatan-catatan warna-warni yang kurekam dari berita TVRI, dan sebuah text-book geologi pemberian Ir Ruspanadi dan Ir. Samiono Samyudo.

Baca Juga  Ridho Guntoro: PDI Perjuangan Siap Kawal & Menangkan FAM-SAH di Pilkada Kepulauan Sula

Ada lagi sebuah saputangan pemberian Mbakyu Sri Sunardi (almarhumah) ketika berpisah denganku di depan kantor Kamp Ambarawa. Saputangan itu sampai tahun 2020 masih kusimpan karena memiliki kenangan tersendiri.

Suasana hari itu di Unit I Wanapura kok persis sama dengan suasana di halaman depan kantor Benteng Fort Willem Een Ambarawa 5 Desember 1967. Udara yang agak lembab sekitar 90%, hawa yang basah oleh hujan malam itu.

Semilir angin di Unit I agak kencang yang kuperkirakan sekitar enam sampai delapan kilometer per jam. Entah berapa kalau diukur memakai Skala Beauford. Bau yang khas dari alang-alang yang tersiram air hujan pertama itu….wangi sekali.

Kuakui memang, ada rasa tersendiri yang menyelinap di hati. Inikah kesedihan? Entahlah, aku tidak tahu. Sekilas aku merasakan kesepian yang mencekam di sore hari itu.

Tanggal 5 Desember 1967 itu Mbak Sri Sunardi harus pulang untuk bebas meninggalkan diriku di Kamp Ambarawa. Mbak Sri satu-satunya saudaraku di kamp ini.

Baca Juga  Melawan Saat Ditangkap, Pelaku Spesialis Ranmor Lintas Sulut Ditembak Polisi

Kuingat benar air matanya hangat membasahi pipiku. Ketika beliau memeluk dan menciumku untuk yang terakhir kali sesaat sebelum aku harus masuk ke puriku, Fort Willem Een.

Beliau menyerahkan sebuah saputangan kepadaku. Menurutnya saputangan itu diserahkan oleh Mas Sunardi sebelum beliau dibawa pergi untuk dihilangkan.

Aku juga teringat kembali wajah Sri Wanito yang cerah berhari depan, menjabat tanganku berpamitan untuk bebas. Terima kasih matroshka adik kecil. Pakaian yang kau relakan untukku sangat berharga. Mbak Sri yang menjahitnya untukku.

Aku ingat saat aku masuk Kamp Ambarawa dari Nusakambangan tahun 1966 dulu. Ibarat pengemis papa dengan pakaianku satu-satunya sejak ditangkap yang melambai ditiup angin karena sudah compang-camping. Dan Mbak Sri membuatkan celana pendek dari baju milik Sri Wanito. (*)