Kuakui memang, ada rasa tersendiri yang menyelinap di hati. Inikah kesedihan? Entahlah, aku tidak tahu. Sekilas aku merasakan kesepian yang mencekam di sore hari itu.
Tanggal 5 Desember 1967 itu Mbak Sri Sunardi harus pulang untuk bebas meninggalkan diriku di Kamp Ambarawa. Mbak Sri satu-satunya saudaraku di kamp ini.
Kuingat benar air matanya hangat membasahi pipiku. Ketika beliau memeluk dan menciumku untuk yang terakhir kali sesaat sebelum aku harus masuk ke puriku, Fort Willem Een.
Beliau menyerahkan sebuah saputangan kepadaku. Menurutnya saputangan itu diserahkan oleh Mas Sunardi sebelum beliau dibawa pergi untuk dihilangkan.
Aku juga teringat kembali wajah Sri Wanito yang cerah berhari depan, menjabat tanganku berpamitan untuk bebas. Terima kasih matroshka adik kecil. Pakaian yang kau relakan untukku sangat berharga. Mbak Sri yang menjahitnya untukku.
Aku ingat saat aku masuk Kamp Ambarawa dari Nusakambangan tahun 1966 dulu. Ibarat pengemis papa dengan pakaianku satu-satunya sejak ditangkap yang melambai ditiup angin karena sudah compang-camping. Dan Mbak Sri membuatkan celana pendek dari baju milik Sri Wanito. (*)




