Mbak Sri dan Dik Sri Matroshka

oleh -73 views

Ia memerintahkan kepada bawahannya untuk tidak memeriksa isi plunjezak buatan militer Uni Soviet itu. Coba kalau ia periksa lainnya, mungkin akan bisa dirampas semua. “Mas, tetaplah ale taat beribadah ya? Terus baca itu doa. Selamat jalan!”

Dalam hati aku bilang, ‘Slameet, slamet!’ dan terselamatkanlah buku-buku catatanku! Catatan harianku, catatan fisika, serta catatan teori musik hasil kuliah kami dengan ‘guru besar’ Pak Subronto K. Atmodjo, doktor musik pertama di Indonesia. Juga catatan kuliah arsitektur dengan pengajar Mas Samiyono Samyudo, catatan-catatan warna-warni yang kurekam dari berita TVRI, dan sebuah text-book geologi pemberian Ir Ruspanadi dan Ir. Samiono Samyudo.

Ada lagi sebuah saputangan pemberian Mbakyu Sri Sunardi (almarhumah) ketika berpisah denganku di depan kantor Kamp Ambarawa. Saputangan itu sampai tahun 2020 masih kusimpan karena memiliki kenangan tersendiri.

Baca Juga  Raker MUI, Nusron Wahid Tekankan Keseimbangan Sistem Penanggulangan Bencana

Suasana hari itu di Unit I Wanapura kok persis sama dengan suasana di halaman depan kantor Benteng Fort Willem Een Ambarawa 5 Desember 1967. Udara yang agak lembab sekitar 90%, hawa yang basah oleh hujan malam itu.

Semilir angin di Unit I agak kencang yang kuperkirakan sekitar enam sampai delapan kilometer per jam. Entah berapa kalau diukur memakai Skala Beauford. Bau yang khas dari alang-alang yang tersiram air hujan pertama itu….wangi sekali.