Membaca Glenn Fredly: Maestro Tak Lahir Setiap Hari

oleh -302 views
Link Banner

Oleh: Falantino Erick Latupapua, Akademi FKIP Unpatti & Musisi

Setuju atau tidak, Glenn Fredly Deviano Latuihamallo pernah menjadi sebentuk anomali di tengah belantara musik pop Indonesia yang kapitalis. Ia punya suara bertimbre “tipis” yang menjangkau rentang suara alto yang, meskipun merdu dan berkarakter, bukan tipikal penyanyi jebolan festival yang masih digandrungi pada era 1990-an.

Ia eksotis dan tak biasa; semacam versi muda dari Broery atau Bob Tutupoly, namun dalam tampilan fisik yang berbeda.

Dengan kulitnya yang “terlalu” coklat, tubuhnya ceking dan tak berotot, ia berbeda dengan artis lelaki setengah bule yang mendominasi konstruksi maskulinitas dan ketampanan laki-laki pada masa itu. Ia lalu mendekonstruksi citra laki-laki Timur yang garang, membahana, dan anti melankoli menjadi talombo-lombo karena tak segan menunjukkan sisi emosional di hadapan khalayak.

Link Banner

Saya masih ingat, akhir kisah cintanya dengan Riafinola Ifansari (Nolla AB3) ia tangisi dalam puluhan lagu, telah membius orang-orang muda pada masa itu. Kita lantas percaya bahwa konsep “galau” yang hari-hari ini menjadi jargon generasi milenial sudah lahir bahkan sebelum kita memberinya nama. Tentang hal yang disebut terakhir, ia mungkin dapat merusak kemapanan citra penyanyi asal Maluku sebagai penyanyi berbakat alam dengan timbre vokal berat, vibrasi kental, serta pilihan tema lagu yang optimistik dan maskulinik.

Meskipun demikian, ia lalu menunjukkan keliyanannya dengan sangat percaya diri, membuat banyak orang percaya bahwa masih ada tempat untuk bakat yang tumbuh bersama karya dan prestasi di tengah-tengah sistem produksi musik yang mulai sering mengekspos sensasi ketimbang prestasi.

Glenn menyanyi dengan teknik vokal dan eksplorasi rasa di atas rata-rata. Ia mahir memainkan gitar dan piano sambil bernyanyi; menciptakan sendiri sebagian besar lagu-lagu yang populer pada masa itu. Singkatnya, dalam perspektif pakem industri pada masa itu, Glenn seharusnya biasa-biasa saja. Tetapi, ia kemudian menjadi fenomena. From zero to hero.

Glenn tidak berhenti di sana. Ia menolak menjadi “robot” di atas pentas demi memuaskan naluri penonton yang haus hiburan, terutama yang berkaitan dengan rasa penasaran tentang urusan percintaan yang berkelindan.

Baca Juga  Ini Baru Madrid!

Pada suatu masa ketika ia masih produktif lalu menyatakan akan mundur dari dunia musik, ia sebenarnya secara pelan-pelan berubah menjadi subjek yang merepresentasi suara-suara yang terpinggirkan. Ia bicara untuk membela kehidupan seniman, menuntut adanya apresiasi terhadap karya, serta menghembuskan wacana tentang pentingnya integritas dalam berkesenian. Ia berteriak tentang kemiskinan dan ketertinggalan masyarakat di Indonesia Timur. Ia mengikuti teladan Franky Siahailatua dengan cara yang berbeda namun dengan tujuan yang sama: setiap nada yang dinyanyikan adalah jalan untuk berpihak dan membela.

Dalam ranah kebudayaan, kita mengenal istilah bahasa Italia, ‘maestro’, yang telah diperluas konsepnya dari makna asli ‘pemimpin paduan suara’.

Maestro adalah pencipta, praktisi, sekaligus pejuang dan penjaga tradisi seni dan budaya, selama ia hidup. Dalam konteks industri budaya populer, ketika seni dan budaya sering hanya berhenti sebagai ‘media’, citra seorang maestro akan sulit dibayangkan.

Produksi seni kebanyakan digenjot untuk kepentingan pertunjukan, berlindung di balik asumsi tentang hiburan, lalu mengabaikan kebermanfaatan dan nilai. Nah, maestro seharusnya adalah pengecualian ketika mereka berani menolak kemapanan dan berjuang di jalan-jalan yang sepi pemberitaan untuk melakukan pembelaan.

Baca Juga  Wakil Gubernur Maluku Buka Forum OPD Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Maluku

Glenn Fredly, dalam beberapa tahun menjelang akhir hidupnya menunjukkan bagaimana seharusnya seorang seniman membela dan setia pada apa yang menghidupkannya.

Glenn dan karyanya mungkin hanya tinggal cerita. Kelak, akan muncul generasi baru seniman yang menjejak dengan cara-cara yang berbeda, meskipun dengan tujuan yang sama.

Lagu-lagu Glenn tinggal sebagai artefak digital yang kemudian akan diproduksi oleh orang lain dengan kesegaran baru dan yang lain, sesuai dengan apa yang dimaui massa pada suatu masa.

Generasi baru akan mengenal Glenn sebagai sebuah nama yang pernah ada. Mereka tidak menyadari sampai mereka berusaha mencari dan menemukan bahwa kemapanan dan perhatian yang mereka nikmati, ekosistem yang berkembang dan menyediakan kesempatan yang luas bagi siapa saja tanpa pandang bulu, adalah hasil perjuangan para maestro yang telah mengabdikan hidupnya untuk berkarya dan membela.

Demikianlah, maestro tidak dilahirkan setiap hari. Maestro justru harus bersedia mati berkali-kali. Glenn Fredly tentu bukan orang yang tidak memahami betapa industri itu punya banyak muka dan bisa menjadi amat jahat meminggirkan mereka yang tak sesuai dengan kepentingan dan kebutuhan.

Ia memilih melawan arus utama dan melakukan hal-hal tidak populer. Hanya sedikit orang yang bersedia mengabdi pada kesadaran akan adanya pengabaian dan penyangkalan.

Glenn tidak akan sedih kalau ia tahu bahwa monument lukisan mural dirinya yang dilukis dengan penuh kasih sayang oleh pelukis marginal yang berbakat, dalam waktu kurang dari setahun kepergiannya, ditutupi oleh rangka besi untuk memajang iklan apa saja: mulai dari senyum merekah orang-orang yang berhasrat menjadi pejabat, hingga iklan pasta gigi, nomor telepon tukang sedot kakus, atau bekas robekan kain plastik yang menggantung dalam ketidakpedulian pada respek.

Baca Juga  Air Cuci Tangan dan Sabun Habis,Warga Pertanyakan Kinerja Tim Covid 19

Ia tahu, perjuangannya tak pernah selesai untuk membuat orang memahami pentingnya menghargai seni melalui tindakan, bukan kata-kata. Ia akan sedih jika ia tahu bahwa penghargaan terhadap seni dan karya seni kebanyakan tidak seindah wacana dan para seniman hanya akan bersuara karena uang dan popularitas. Ia akan lebih prihatin jika semangat maestral yang ingin ia wariskan ternyata hanya dipahami sebagai “tunjukkan sebanyak-banyaknya”, bukan “berpikir dan maknai sebanyak-banyaknya”.

Glenn Fredly adalah maestro bukan karena ia sangat populer. Ia adalah maestro karena ia tak cuma berkarya dengan setia, tetapi juga membela, bersuara untuk kepentingan banyak orang, dan tak takut membesarkan orang lain. Ia sudah selesai dengan profil dan citra, tetapi belum selesai dengan warisan nilai dan semangat mengabdi sampai ajal menjemput.

Tak banyak orang sadar bahwa Glenn tidak menangis tentang cinta yang patah. Ia romantis dan melankolis pada hidup yang sudah memberinya begitu banyak tetapi belum cukup banyak untuk membuat dunia menjadi lebih baik. Ia meninggalkan teladan yang kadang dilupakan, bahwa seniman harus punya hasrat filosofis, yakni mencintai kehidupan. Ia berkesenian, berbicara, bertekun membela, sebagai wujud penghayatan tertinggi atas spiritualitasnya.

Pada akhirnya, ini bukan sekadar tentang agama atau tuhan. Ini adalah tentang kehidupan: “… hanya satu yang ‘ku pinta, ajar ‘ku mengasihi-Mu, dengan segenap hatiku, seluruh hidupku…” (Satu Hari lagi, Glenn Fredly, 2016). Sekali lagi, seorang maestro tidak lahir setiap hari; ia (bersedia) mati berkali-kali. (*)