Oleh: Falantino Erick Latupapua, Akademi FKIP Unpatti & Musisi
Setuju atau tidak, Glenn Fredly Deviano Latuihamallo pernah menjadi sebentuk anomali di tengah belantara musik pop Indonesia yang kapitalis. Ia punya suara bertimbre “tipis” yang menjangkau rentang suara alto yang, meskipun merdu dan berkarakter, bukan tipikal penyanyi jebolan festival yang masih digandrungi pada era 1990-an.
Ia eksotis dan tak biasa; semacam versi muda dari Broery atau Bob Tutupoly, namun dalam tampilan fisik yang berbeda.
Dengan kulitnya yang “terlalu” coklat, tubuhnya ceking dan tak berotot, ia berbeda dengan artis lelaki setengah bule yang mendominasi konstruksi maskulinitas dan ketampanan laki-laki pada masa itu. Ia lalu mendekonstruksi citra laki-laki Timur yang garang, membahana, dan anti melankoli menjadi talombo-lombo karena tak segan menunjukkan sisi emosional di hadapan khalayak.
Saya masih ingat, akhir kisah cintanya dengan Riafinola Ifansari (Nolla AB3) ia tangisi dalam puluhan lagu, telah membius orang-orang muda pada masa itu. Kita lantas percaya bahwa konsep “galau” yang hari-hari ini menjadi jargon generasi milenial sudah lahir bahkan sebelum kita memberinya nama. Tentang hal yang disebut terakhir, ia mungkin dapat merusak kemapanan citra penyanyi asal Maluku sebagai penyanyi berbakat alam dengan timbre vokal berat, vibrasi kental, serta pilihan tema lagu yang optimistik dan maskulinik.




