Membaca Simbol Perlawanan dan Kritik Sosial dalam Film Pesta Babi

oleh -263 views

Oleh: Rofiko Rahayu Kabalmay, Alumni Fakultas Psikologi UI, Pegiat Literasi pada Kei Book Club

Film Pesta Babi – Kolonialisme di Zaman Kita garapan Dandy Laksono dan Cypri Paju Dale adalah film dokumenter berbasis penelitian sejarah dan antropologi menggunakan investigasi jurnalistik dan analisis kebijakan. Narator memang memegang kunci utama dalam alur film ini, di mana menyajikan data maupun deskripsi lapangan yang sangat lengkap. Seperti dokumenter pada umumnya, sedari awal penonton disuguhkan “pembacaan cerita”.

Dialog-dialog dalam film yang berdurasi hampir 2 jam ini muncul untuk memperkuat narasi yang dibangun.

Ada 5 tokoh dalam film ini:

  1. Yasinta Moiwend, Suku Marind, Distrik Ilwayab.
  2. Natalis Buer, Suku Marind, Distrik Tanah Miring.
  3. Vincen Kwipalo, Suku Yei, Distrik Jagebob, Merauke.
  4. Hendrikus “Franky” Woro, Suku Awyu, Distrik Fofi, Kab. Boven Digul.
  5. Wilem Kimko, tokoh adat Suku Muyu, Boven Digoel.
Baca Juga  Del Piero Puji Kenan Yildiz, Bukti Kreativitas Serie A Belum Mati

Tokoh utama dan beberapa yang lain ditampilkan untuk memperkuat alur dokumenter ini. Mereka muncul dalam dialog yang minim namun sarat akan makna. Jika kita jeli, dari dialog yang minim itu sebenarnya banyak pesan simbolik yang memperkuat film ini sehingga kita yang menonton dapat memahami sebagai kritik tajam terhadap perampasan tanah adat dan penghidupan mereka.

Pesan, simbol, dan makna sosial yang disampaikan hanya bisa terbaca jika kita punya literasi kritis untuk memahami bahasa film bahkan di luar kata-kata. Tulisan sederhana ini dibuat sebagai pengantar untuk membincangkan dokumenter Pesta Babi dengan pendekatan Psikologi Sosial dan mencoba melihat dari sisi Antropologi Budaya yang sedikit saya pahami.

No More Posts Available.

No more pages to load.