Negara yang percaya diri tidak takut pada dokumenter. Negara yang yakin pada kebijakan dan rekam jejaknya akan membuka ruang debat, menghadirkan data tandingan, dan membiarkan warga menilai. Hanya kekuasaan yang rapuh yang gemetar pada proyektor, kursi plastik, dan diskusi sederhana di kampus.
Ironisnya, semakin keras sebuah film ditekan, semakin besar rasa ingin tahu publik. Efek yang dikenal sebagai Streisand effect bekerja tanpa bisa dicegah: apa yang disembunyikan justru menjadi pusat perhatian.
Film yang mungkin awalnya hanya ditonton kalangan terbatas, mendadak berubah menjadi percakapan nasional.
Menjadi prihatin ketika perguruan tinggi—ruang yang semestinya menjadi rumah bagi kebebasan berpikir—ikut bersikap defensif.
Sebagian kampus memilih mengambil jarak, melarang pemutaran, atau meminta kegiatan dibatalkan demi menghindari gesekan dengan kekuasaan.
Kampus yang seharusnya melindungi keberanian intelektual justru tampak sibuk mencuci tangan.
Sikap semacam itu menyisakan ironi yang getir. Mahasiswa didorong untuk berpikir kritis, meneliti, dan berdiskusi, tetapi ketika mereka hendak menonton sebuah film dokumenter dan mendebatkannya secara terbuka, ruang itu justru ditutup. Kebebasan berekspresi yang seharusnya dirawat sebagai denyut kehidupan akademik perlahan dilucuti atas nama kehati-hatian administratif.









