Membungkam “Pesta Babi”, Menyembunyikan Luka Papua

oleh -60 views

Oleh: Ady Amar, Kolumnis

Judul Pesta Babi bukan dipilih untuk memancing sensasi. Dalam banyak komunitas adat di Papua, babi merupakan simbol kehormatan, kekayaan, perdamaian, dan ikatan sosial. Pesta adat yang melibatkan penyembelihan serta pembagian babi adalah bagian penting dari tradisi yang meneguhkan persaudaraan dan identitas budaya.

Karena itu, judul film ini menyiratkan bahwa yang sedang dipertaruhkan di Papua bukan sekadar hutan dan tanah, melainkan seluruh cara hidup masyarakat adat.
Jika tanah adat hilang, maka “pesta babi” sebagai lambang kebersamaan dan martabat budaya juga ikut terancam lenyap.

Film dokumenter ini mengangkat pergulatan masyarakat adat di Papua Selatan yang menghadapi ekspansi proyek berskala besar, termasuk food estate, perkebunan, dan industri bioenergi. Film tersebut menyoroti konflik lahan, kerusakan hutan, serta tudingan militerisasi dalam pengamanan proyek-proyek strategis.

Pertanyaan mendasarnya sederhana: jika isi film itu tidak benar, mengapa tidak dibantah dengan data?
Mengapa harus dibubarkan? Mengapa ruang diskusi harus ditutup sebelum penonton selesai menilai dengan akalnya sendiri?

Baca Juga  Jelang HUT ke-23, Panitia Fokus Bakti Sosial di Sejumlah Titik Kota Sanana

Di situlah letak keganjilannya.

Pelarangan sering kali bukan tanda bahwa sebuah karya berbahaya.
Pelarangan justru kerap menjadi tanda bahwa karya itu menyentuh sesuatu yang ingin disembunyikan. Ketika sebuah film dianggap mengancam hanya karena menampilkan suara masyarakat adat, maka yang sesungguhnya sedang dipertaruhkan bukan layar, melainkan hak publik untuk mengetahui.

No More Posts Available.

No more pages to load.