Menjahit Kembali Serpihan Reformasi yang Dikebiri

oleh -203 views

Oleh: Isa Ansori, Dosen dan Kolumnis, Pelaku Reformasi 98, Tinggal di Surabaya

Dua puluh enam tahun telah berlalu sejak gejolak Reformasi mengantarkan Indonesia ke era baru. Darah, nyawa dan harta rakyat Indonesia, terburai mengalir di pelataran tanah yang bernama Indonesia. Petani, buruh, mahasiswa, akademisi dan seluruh rakyat Indonesia yang terpanggil rela berkorban dan berjuang merebut Indonesia baru dari cengkraman Orde baru yang melanggengkan korupsi, kolusi dan nepotisme.

Semangat rakyat yang bangkit menuntut perubahan menggema di seluruh penjuru negeri, melahirkan cita-cita mulia untuk membangun bangsa yang demokratis, adil, dan sejahtera.

Namun, di tengah perjalanan panjang ini, bagaikan api yang ditiup angin, semangat Reformasi terasa mulai meredup. Korupsi masih merajalela, kesenjangan kian melebar, dan demokrasi terancam oleh bayang-bayang oligarki.

Reformasi dijarah oleh penumpang gelap, mereka berasal dari anasir Orde baru dan para penikmatnya, para politisi, oligarki dan partai politik yang berafiliasi. Reformasi hanya dijadikan slogan untuk membungkus kebusukan mereka. Lalu dimanakah janji keadilan dan kesetaraan yang dulu diimpikan?

Baca Juga  Canangkan Sensus Ekonomi 2026, Bupati Maluku Tenggara Tekankan Pentingnya Data Akurat untuk Pembangunan

Di era Jokowi, reformasi tak lagi menjadi semangat membangun negeri, Dinasti politik dan oligarki dihidupkan dan ditumbuh suburkan, tak hanya para pengusaha gelap yang hidup, para politisi hitam dan partai politik hitam, saling bahu membahu menghantam reformasi dan menjarahnya. PDIP sebagai partai politik yang pernah menjadi korban, kini paling merasakan pedihnya, dikhianati dan diintimidasi, peristiwa Kudatuli adalah saksi. Jokowi tega mengkhianati Megawati dan PDIP serta reformasi.

No More Posts Available.

No more pages to load.