Menunggu Taklimat Prabowo di Tengah Ekonomi yang Terengah

oleh -6 Dilihat

Evaluasi terhadap program semacam ini bukanlah tanda kelemahan pemerintah. Justru sebaliknya: ia adalah tanda kedewasaan negara.

Pemerintah tidak perlu merasa malu jika suatu kebijakan ternyata harus dikoreksi, disederhanakan, bahkan dihentikan. Yang memalukan justru ketika negara terus memaksakan program mahal sementara kebutuhan yang lebih mendasar justru terpinggirkan.

Pada akhirnya, taklimat yang ditunggu publik bukan sekadar penjelasan tentang perang jauh di Timur Tengah. Rakyat tentu ingin tahu bagaimana konflik global itu mempengaruhi Indonesia. Namun lebih dari itu, rakyat juga menunggu kejujuran pemerintah dalam membaca kondisi domestik kita sendiri.

Sebab ancaman terbesar bagi sebuah negara sering kali bukan hanya datang dari luar, melainkan dari ketidakmampuan mengelola rumah tangganya sendiri.

Jika taklimat itu akhirnya benar-benar disampaikan, publik berharap ia bukan sekadar kata-kata yang menenangkan. Taklimat seharusnya menjadi momen kejujuran negara: menjelaskan situasi secara jernih, mengakui tantangan dengan terbuka, dan menunjukkan arah kebijakan yang realistis.

Baca Juga  Budi Arie dan Bayang-Bayang Makar

Sebab rakyat tidak membutuhkan pidato yang meninabobokan. Rakyat membutuhkan pemerintah yang berani berkata jujur: bahwa situasi global sedang berbahaya, bahwa ekonomi nasional tidak sedang baik-baik saja, dan bahwa negara harus mulai hidup lebih hemat, dan lalu melaksanakannya.

No More Posts Available.

No more pages to load.