Merpati dan Elang Israel

oleh -11 Dilihat
Ahmadie Thaha/Ist

Tapi alasan dan inti gerakannya sama: “mengupayakan perdamaian” dengan mengusut akar konflik kepada pihak yang paling menentukan. Langsung menembus pusat gerakan yang kebetulan juga cari mitra di negeri muslim terbesar dunia.

Bedanya, Shimon Peres yang ditemui Gus Dur adalah ikon dove —merpati diplomasi yang (konon) percaya pada solusi dua negara, Israel dan Palestina.

Sedangkan Benyamin Netanyahu yang ditemui Yahya Tsaquf adalah hawk —elang yang lebih suka terbang rendah sambil mencengkeram apa pun yang bergerak.

Anda tahu, Simon Peres yang kabarnya mati pelan-pelan adalah bapak di balik Perjanjian Oslo, sekalipun Oslo itu sendiri banyak lubang.

Ia percaya Palestina harus punya pemerintahan sendiri, walau versinya sering membuat rakyat Palestina merasa seperti menempati rumah sendiri tapi harus lapor dulu ke tuan tanah jika ingin buka pintu dapur.

Baca Juga  Tak Mampu Lagi Padamkan Api, Warga Lolasita Pasrah Dikepung Asap Karhutla

Namun, pada eranya, diplomasi tetap ada, pengakuan tetap diusahakan, dan masa depan —setidaknya waktu itu— masih punya nama.

Netanyahu sebaliknya, mengembangbiakkan permukiman di tanah pendudukan tak sah seperti tanaman hidroponik. Namun bukan sayuran yang tumbuh, melainkan tembok, pos militer, dan pagar pengaman.

Solusi dua negara baginya seperti diet ketat: diklaim, tapi tidak pernah benar-benar dijalankan. Ia tak pernah terus-terang menerima atau menolak solusi eksistensi dua negara Israel dan Pelestina secara berdampingan.

No More Posts Available.

No more pages to load.