Oleh: Ahmadie Thaha, Kolumnis
Alangkah riuhnya jagat per-NU-an minggu ini, sampai-sampai para jamaah masjid kelas kampung yang biasanya ribut soal sound system toa, kini ikut berdebat geopolitik Timur Tengah.
Penyebabnya bukan karena tiba-tiba ada dari mereka yang hafal piagam PBB atau fasih menyebut Resolusi 242. Tapi, itu karena kabarnya Syuriyah NU meminta Ketua Umum PBNU Yahya Tsaquf angkat koper dari kursi jabatannya.
Alasan Syuriyah agak dramatis: Yahya Tsaquf dianggap tak bermoral karena menjalin hubungan dengan mesin pembunuh Benjamin Netanyahu. Tak cuma itu, dia juga mengangkat orang asing “orangnya” Netanyahu jadi penasehat NU.
Tentu saja, kata Yahya, itu dia lakukan untuk mengkomunikasikan usaha perdamaian. Tapi seperti biasa, publik kita adalah mahasiswa abadi: apa saja boleh dibahas, walau buku referensinya belum pernah dibaca.
Dan NU, sebagai ormas Islam yang tersebar di mana-mana, ya jangan salahkan kalau gaduhnya dari penjaga kios pulsa depan pesantren hingga ibu-ibu di pasar ikut menegang.
Rapat Syuriyah itu konon berlangsung khidmat, dengan suasana khas organisasi lama. Tasbih berjalan, kiai duduk rapi, para senior berdehem berirama, dan mikrofon tak ikut mati meski giliran dipegang orang yang tak sependapat.









