Saking konsistennya kedua PM Israel dengan ideologi masing-masing, dunia menyebut Peres pragmatic dove dan Netanyahu ideological hawk. Yang satu membangun meja perundingan, yang satu lagi meratakan hampir seluruh wilayah Gaza tanpa sisa, bersama penghuninya.
Jadi ketika diplomasi NU memasuki Israel zaman Shimon Peres, ia berada di era ketika kata peace masih punya nomor telepon untuk dihubungi. Perdamaian masih jadi jualan yang laku bahkan menggema di arena perpolitikan Tanah Air.
Tetapi ketika diplomasi itu memasuki Israel era Netanyahu, ia menembus medan yang bahkan GPS moral internasional pun sering kehilangan sinyal. Anda pasti belum hilang ingatan bagaimaan ganasnya mesin perang Netanyahu membumi-hanguskan Palestina sehingga nyamuk pun enggan hidup.
Ini bukan soal siapa benar siapa salah. Bukan pula soal menilai Gus Dur lebih suci sejalan niat Simon Peres. Atau Yahya Tsaquf lebih berani namun dinilai tak bermoral oleh sesama ulama seperti mereka menilai Netanyahu.
Yang sedang kita lihat adalah dua bab sejarah dengan cuaca berbeda. Yang satu hujan rintik yang masih menyisakan harapan pelangi, yang satu badai topan dengan tenda kemanusiaan beterbangan.
Maka kalau hari ini ada yang ingin membandingkan kedua peristiwa itu, ya biarkan saja publik berpikir sendiri. Jangan buru-buru menyimpulkan, karena sejarah tidak pernah berjalan dalam cetakan silikon.









