Mesir Mulai Bangun Kembali Jalur Gaza yang Hancur Dibombardir Israel

oleh -35 views
Link Banner

Porostimur.com – Gaza City: Pemerintah Mesir terus melakukan pembangunan kembali Jalur Gaza, Palestin yang hancur dirudal jet tempur Israel.

Dilaporkan, poster Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi dipasang situs di Jalur Gaza.

Di mana para pekerja dan buldoser bekerja keras untuk membangun kembali bangunan yang hancur.

Dilansir AP, Minggu (21/11/2021), setelah bertahun-tahun hilang, Mesir membuat kehadirannya kembali terasa di kantong Palestina itu.

Muncul sebagai dermawan utama setelah pertempuran terakhir antara Hamas dan Israel pada Mei 2021.

Dalam minggu-minggu kekerasan mematikan, sejumlah pekerja Mesir melintasi perbatasan untuk membangun jalan pantai di kota utara Beit Lahya di Jalur Gaza.

“Instruksi presiden untuk membangun kembali Jalur Gaza,” kata seorang pekerja yang tidak mau disebutkan namanya.

“Kami berjumlah sekitar 70 insinyur, pegawai negeri, pengemudi truk, mekanik dan pekerja,” jelasnya.

Dia mengaku sangat senang dapat membantu Palestina.

Selama konflik 11 hari yang meletus antara Israel dan faksi-faksi Islam bersenjata di Gaza Mei lalu, Mesir bekerja di belakang layar untuk menengahi gencatan senjata.

Kairo juga menjanjikan paket $500 juta untuk merekonstruksi daerah yang berbatasan dengan Israel dan Mesir.

Baca Juga  Real Madrid vs Barcelona: Prediksi Skor, Line Up dan Head to Head

Hubungan antara Kairo dan Hamas sebuah cabang dari kelompok veteran oposisi Islam Mesir Ikhwanul Muslimin telah memburuk.

Terutama setelah penggulingan militer 2013 mendiang presiden Mohamed Morsi, juga dari Ikhwanul.

“Pemandangan para pekerja Mesir membangun kembali Gaza tak terduga dan tak terbayangkan”, kata ekonom Palestina Omar Shaban.

“Mesir dan Hamas bukanlah teman, tetapi mereka memiliki kepentingan yang sama,” jelasnya di kantornya di Al-Rimal.

Sebuah distrik Gaza yang dibombardir oleh Israel pada bulan Mei 2021.

“Mesir ingin mempertahankan gencatan senjata dengan terlibat dalam upaya rekonstruksi setelah perang,” tambahnya.

Hamas sangat membutuhkan bantuan internasional untuk rekonstruksi.

Hubungan positif dengan Mesir merupakan keuntungan tambahan karena mengontrol perbatasan Rafah.

Seringkali merupakan satu-satunya titik akses untuk bahan konstruksi yang sangat dibutuhkan ke daerah kantong itu.

Mesir, memahami mereka tidak memiliki banyak pilihan di Jalur Gaza.

Selama beberapa tahun terakhir, Qatar telah menjadi donor utama bantuan untuk wilayah miskin, tetapi setelah pertempuran Mei, aliran uang terhenti.

Negara Teluk yang kaya energi dianggap bersimpati kepada Ikhwanul Muslimin dan cabang-cabangnya.

Baca Juga  Kapolri Sebut Kebijakan Larangan Mudik untuk Lindungi Masyarakat

Tetapi, telah mengeluarkan puluhan juta dolar bantuan untuk keluarga miskin di Gaza.

Tetapi perselisihan muncul mengenai distribusi gaji kepada pejabat Hamas.

Israel keberatan dengan pembayaran tunai, menunjukkan gerakan Islam itu dapat mengalihkan uang itu ke faksi bersenjatanya.

Akibatnya, Menteri Luar Negeri Israel Yair Lapid mendesak Mesir dan Uni Emirat Arab untuk turun tangan membangun kembali dan mengembangkan Gaza.

Hamas memperkirakan kerugian akibat perang sekitar $479 juta.

Naji Sarhan, Wakil Menteri Kementerian Pekerjaan Umum di Gaza mengatakan dibutuhkan $600 juta untuk membangun kembali kota ini.

Tetapi, katanya, tidak termasuk untuk listrik, air dan infrastruktur.

Wilayah ini dianggap sebagai salah satu yang paling miskin di wilayah tersebut.

“Bantuan Qatar disambut baik dan begitu juga dengan Mesir,” ujarnya.

“Kami berkoordinasi antar negara,” kata Sarhan.

Doha mengumumkan pada 17 November kesepakatan dengan Kairo untuk memasok bahan bakar dan bahan bangunan dasar untuk Jalur Gaza.

Hubungan antara Mesir dan Qatar memburuk selama beberapa tahun.

Baca Juga  Puluhan Warga Sulut Terkatung-katung di Pelabuhan Ahmad Yani Ternate

Sebagian besar karena hubungan dekat negara Teluk dengan Ikhwanul sebelum mereka berdamai lagi awal tahun ini.

Sarhan menambahkan jalan yang dibangun oleh Mesir di utara akan bergabung dengan jalan lain yang didanai oleh Qatar.

Sehingga, akan ada koridor di sepanjang pantai antara utara dan selatan Gaza.

Namun jalan itu akan memotong tepat melalui kamp pengungsi Al-Shati, di mana bangunan telah menjadi puing-puing.

“Mereka mengatakan kepada kami harus meninggalkan tempat ini dan akan memiliki rumah baru,” kata seorang warga, Roya al-Hassi (83).

“Saya tidak khawatir untuk pergi, selama saya dapat menemukan kamar, kamar mandi, dan tempat untuk membuat teh,” ujarnya.

Di sisi lain jalan, pengusaha muda Maher al-Baqa memandangi pembangunan kafe barunya di pinggir laut.

Jalan tepi laut baru akan menarik dunia”, dia bersukacita.

“Tapi hei, ini masih Gaza, kamu tidak pernah tahu kapan perang akan dimulai kembali,” ujarnya.

(red/bs)

No More Posts Available.

No more pages to load.