Hal itu bermula dari pemilihan presiden terbaru di Guinea yang digelar pada Oktober 2020. Pemilu itu dianggap dinodai oleh kekerasan dan tuduhan kecurangan.
Conde, yang maju lagi dalam Pemilu 2020, memenangkan masa jabatan ketiga yang kontroversial. Periode ketiganya didapat setelah mendorong perubahan konstitusi pada Maret 2020 yang memungkinkan dia menghindari batas dua masa jabatan presiden di negara itu.
Puluhan orang tewas dalam demonstrasi menentang masa jabatan ketiga untuk Conde. Ratusan orang lainnya ditangkap.
Conde kemudian diproklamasikan sebagai presiden pada 7 November tahun lalu. Penantang utamanya, Cellou Dalein Diallo dan tokoh oposisi lainnya mencela pemilihan itu sebagai tipuan. Pemerintah kemudian menangkap beberapa anggota oposisi terkemuka atas dugaan peran mereka dalam bersekongkol dengan kekerasan pemilu di negara itu.
Militer Anggap Negara Salah Urus

Militer menganggap Conde salah urus dan membuat negara berpenduduk sekitar 13 juta orang yang kaya sumber daya mineral menjadi salah satu negara termiskin di dunia. Penduduk distrik Kaloum di ibu kota Conakry, kawasan pemerintah, telah melaporkan mendengar suara tembakan keras saat kudeta berlangsung.
Kepala pasukan khusus militer Guinea, Letnan Kolonel Mamady Doumbouya, kemudian muncul di televisi publik. Dia mengenakan bendera nasional dan mengatakan salah urus pemerintah memicu kudeta.




