Porostimur.com, Washington – Seorang analis dari Center for Strategic and International Studies menilai posisi Presiden Amerika Serikat Donald Trump tidak cukup kuat dalam pertemuannya dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing.
Direktur dan peneliti senior CSIS Gregory Poling mengatakan, dalam setahun terakhir sengketa perdagangan antara Washington dan Beijing telah memberi China kepercayaan diri lebih besar dalam menghadapi AS.
Menurutnya, Beijing kini merasa memiliki pengaruh yang lebih kuat dan tidak perlu memberikan konsesi besar kepada Washington.
“China menyimpulkan bahwa mereka memiliki pengaruh jauh lebih besar dari yang diperkirakan, sehingga tidak perlu membuat konsesi struktural besar kepada AS,” ujarnya.
China Ingin Tetap Jadi “Pembuat Aturan”
Poling juga menyoroti kekhawatiran China terhadap jalur maritim global, khususnya terkait potensi penutupan Selat Hormuz.
Ia mengingatkan bahwa jika Selat Hormuz terganggu, dampaknya bisa meluas ke hampir seluruh jalur pelayaran dunia.
“China sudah memandang dirinya sebagai pembuat aturan di abad ke-21 dan sangat jelas ingin Selat Hormuz tetap terbuka,” katanya.
Menurut Poling, kepentingan China dan AS sebenarnya bertemu dalam isu Iran, di mana kedua negara sama-sama menginginkan jalur tersebut tetap aman.










