Negeri Para Koruptor

oleh -26 views

Tidak ada bangsa yang tiba-tiba kehilangan moralitasnya. Semua bermula ketika ia terbiasa menerima hal-hal yang semestinya ditolak. Peradaban jarang runtuh oleh satu kejahatan besar; ia lebih sering rapuh karena terlalu lama berdamai dengan kejahatan-kejahatan kecil yang terus dibiarkan.

Korupsi tetaplah kejahatan. Namun ketika ia terus berulang tanpa pernah benar-benar terasa selesai, yang lahir bukan hanya kemarahan, melainkan kelelahan moral. Masyarakat lelah berharap, lelah kecewa, bahkan lelah marah. Dari kelelahan itulah tumbuh sikap permisif yang diam-diam menggerogoti kehidupan bersama.

Barangkali kita terlalu sering menghitung jumlah koruptor, tetapi terlalu jarang menghitung kerusakan yang ditinggalkannya. Sebab yang terkikis bukan hanya anggaran negara, melainkan juga kepercayaan publik bahwa kejujuran masih memiliki tempat dalam kehidupan berbangsa.

Baca Juga  Jelang Groundbreaking Blok Masela, Gubernur Maluku Pastikan Seluruh Persiapan Rampung

Setiap operasi tangkap tangan tentu layak diapresiasi sebagai ikhtiar penegakan hukum. Namun semakin sering jaring dilempar dan semakin banyak ikan yang tertangkap, semakin jelas pula bahwa persoalannya bukan lagi sekadar siapa yang tertangkap, melainkan kolam tempat mereka tumbuh.

Pertanyaan itu membawa kita pada pemikiran sosiolog terkemuka Syed Hussein Alatas. Dalam The Sociology of Corruption, Alatas mengingatkan bahwa korupsi tidak pernah berdiri sebagai persoalan moral seorang individu semata. Ia adalah gejala sosial yang memiliki banyak wajah dan bertahan karena ditopang oleh sebuah sistem.

No More Posts Available.

No more pages to load.