Ngalah, Ngalih dan Ngamuk

oleh -562 views

Oleh: Made Supriatma, Peneliti dan jurnalis lepas. Saat ini bekerja sebagai visiting research dellow pada ISEAS-Yusof Ishak Institute, Singapore

Seniman Butet Kertarajasa dilaporkan ke polisi dan dituduh mencemarkan nama baik.

Pak Jokeri “kampanye” di Wonosari, Gunungkidul. Ada warga bawa spanduk lawan anaknya, langsung dibogem mentah aparat.

Kampanye? Bukan! Itu kunjungan kerja. Sambil bagi-bagi kaos dan bansos.

Di kampung sebelah saya, pembagian beras yang seharusnya kemarin ditunda hari ini. Karena apa? Nunggu Pak Jokeri datang. Biar nanti Pak Jokeri yang bagi-bagi.

Politik kok balik ke zaman Orba, ya? Neo-Orba banget ini.

Pak Jokeri dan anaknya mungkin akan menang. Tapi apakah rakyat akan diem saja? Mereka yang sekarang dapat bansos, beras, kaos, mungkin akan terima saja. Mereka butuh.

Bukan berarti mereka bodoh. Mereka butuh saja. Juga mungkin mereka tidak berani melawan.

Baca Juga  MBG Serang Balik

Orang-orang kecil — khususnya orang Jawa — akan selalu mengalah dulu. Dikasih bansos, beras, kaos, ya diterima. Walau pun mungkin di dalam hati merasa hina.

Kalau mereka didesak lagi, mereka akan beralih (ngalih). Mereka menjauh. Diberi sesuatu, sebisa mungkin menjauh. Tidak menolak. Mereka menjauh. Ketika ditindas, mereka memilih lari ketimbang melawan.

No More Posts Available.

No more pages to load.