Oleh: Hermanto, Wartawan Senior Jogjakarta
Di satu pagi yang belum selesai benar, di sudut kota yang tidak pernah disebut di peta pelancong, Ngasem membuka dirinya seperti halaman pertama dari buku tua. Angin membawa bau kelapa parut, kembang kantil, dan asap dari kayu yang dibakar terlalu cepat. Di antara kios-kios dari triplek yang sudah mulai terkelupas, seseorang menjual jadah tempe yang masih mengepul, dibungkus daun pisang yang belum kering sempurna—meninggalkan bekas basah di telapak tangan pembelinya.
Pasar Ngasem bukan pasar yang ramai dalam arti biasa. Ia tak berteriak. Ia berbisik. Dan dalam bisikannya itu, ia menyimpan bunyi-bunyi kecil yang tak bisa dicatat dengan huruf kapital: gemerisik kertas uang yang diluruskan diam-diam, desah halus seorang ibu yang lelah sejak subuh, suara lontong yang dipotong dengan benang nilon.
Dulu, suara yang paling dominan adalah suara burung. Perkutut, jalak suren, trucukan, anis kembang. Tiap pagi, sebelum matahari menyentuh genteng, lelaki-lelaki dengan peci dan rokok terselip di telinga datang menenteng sangkar, menilai suara, mengamati sorot mata. Mereka berbicara sedikit, tapi mendengar dengan cermat. Sebuah urusan yang lebih mirip meditasi ketimbang perdagangan.








