Penjualnya? Mereka tetap. Seorang perempuan tua yang menyimpan pisau di balik taplak plastik. Seorang lelaki bungkuk yang tak banyak bicara, tapi tahu kapan tahu bacemnya sudah pas. Mereka tidak tahu bahwa wajah mereka sudah muncul di ratusan akun Instagram. Mereka tidak paham algoritma, tapi mereka paham kapan minyak cukup panas.
Harga berubah, seperti selalu. Klepon kini tiga ribu. Gethuk lima ribu. Bubur sumsum delapan ribu. Tapi yang dibeli bukan cuma rasa. Yang dibeli adalah masa lalu, dibungkus dalam plastik, lalu dibawa pulang dalam format video berdurasi lima belas detik.
Tapi pasar ini bukan museum. Ia masih hidup. Masih berdenyut. Di satu sudut, seorang bocah menawarkan tisu dan baterai. Di sisi lain, seorang ibu merangkai bunga untuk keperluan sesajen. Di tengah, seorang bapak tua duduk di bangku yang sudah miring, memandang lalu lalang dengan tatapan yang sulit ditebak: marah atau pasrah, lelah atau legawa.
Ngasem tidak berubah untuk menjadi baru. Ia hanya bergeser agar tetap dikenang.
Ia bukan tempat untuk belanja. Ia adalah tempat untuk merasa.
Tempat untuk mengunyah perlahan sesuatu yang tak lagi bisa ditemukan di tempat lain: rasa yang tak rapi, bentuk yang tak sempurna, aroma yang tak dibuat-buat.








