Kini burung-burung telah pergi. Mereka dipindah ke Dongkelan. Ke pasar satwa yang rapi dan steril, tapi dingin. Seperti rumah sakit bagi kenangan. Yang tersisa di Ngasem bukan lagi suara kicau, tapi suara denting piring, tawa bocah, dan percakapan dalam bahasa asing yang terpatah-patah.
Karena Ngasem sekarang hidup dari makanan. Bukan dari burung.
Dari ronde yang dijual di mangkuk logam yang penyok di satu sisi. Dari gethuk yang warna merah jambunya terlalu terang tapi terlalu jujur. Dari cenil yang licin dan manis seperti masa kecil. Dari bubur sumsum yang disiram gula jawa cair yang warnanya mirip sore hari.
Mereka dijual di atas meja kayu yang diganjal batu bata. Ditata seadanya, tapi selalu ada bunga kecil di sampingnya, seperti persembahan yang tulus. Bau gula kelapa, kelapa bakar, daun pandan, dan minyak kelapa goreng menyatu menjadi aroma yang tak bisa dijual di supermarket mana pun.
Para pembeli datang dengan pakaian linen longgar dan kamera yang lebih besar dari kantong bajunya. Sebagian dari Jakarta, sebagian dari Prancis, dan entah mengapa, selalu ada satu dua yang datang dari Korea. Mereka datang pagi-pagi sekali. Tidak untuk sarapan, tapi untuk foto. Mereka tidak bertanya siapa nama penjualnya, tapi menanyakan bahan dan hashtag.








