Ngokop Kabinet

oleh -21 Dilihat

Di sejumlah wilayah Jawa Timur dan kawasan Jawa Tengah bagian timur, orang mengenal kata yang berkaitan dengan kebiasaan itu. Namun, ketika santri melakukannya bersama-sama, tindakan sederhana tersebut memperoleh makna sosial yang lebih dalam.

Satu wadah, banyak mulut. Satu makanan, banyak tangan. Dalam kebiasaan seperti itulah orang belajar berbagi tanpa harus menghadiri seminar tentang solidaritas. Mereka tidak memerlukan layar presentasi untuk memahami kebersamaan.

Mereka cukup duduk berdekatan, mengambil bagian secukupnya, menjaga agar temannya juga mendapat bagian, dan menikmati hidangan dalam suasana persaudaraan. Kurikulum kehidupan kadang mengajar lebih efektif ketimbang seratus halaman modul.

Kamus dapat menerangkan bagaimana seseorang meminum air langsung dari wadah. Tapi kamus tidak otomatis menjelaskan mengapa sekelompok santri melakukan kegiatan itu bersama-sama, bagaimana tradisi tersebut tumbuh, atau nilai apa yang mereka pelihara.

Untuk menjawab pertanyaan terakhir, kita perlu melihat konteks sosial, kebiasaan dan penuturan orang yang mengalaminya. Kesaksian Agus memberi kita pintu masuk, meskipun tentu tak mewakili semua pesantren atau seluruh penutur bahasa Jawa.

Baca Juga  Dua Tahun TPP Guru Maluku Tak Dibayar, Pemprov Dituntut Beri Kepastian

Di sinilah cerita tersebut bertemu dengan kata “kekompakan”, yang disebut presiden sesaat kemudian dalam pidatonya.

No More Posts Available.

No more pages to load.