Publik menangkap bunyi yang menggelitik, kemudian memperlakukannya sebagai bahan humor. Wajar saja. Bahasa lisan kadang menghadirkan kejutan, terlebih ketika seorang pejabat berbicara di depan kamera.
Namun, kita juga dapat memanfaatkan keramaian itu untuk membicarakan sesuatu yang lebih substansial: apa sebenarnya yang membuat sebuah kelompok kompak?
Kita sering mengukur kekompakan melalui foto bersama, seragam yang sama, tepuk tangan serentak, dan pernyataan bahwa semua anggota tim sudah satu suara.
Dalam birokrasi, kekompakan bahkan kadang tampak melalui kemampuan seluruh anggota rapat mengangguk pada saat yang bersamaan. Kalau kepala bergerak serempak, kamera memperoleh gambar yang indah. Persoalannya, gambar indah belum tentu menggambarkan kerja yang sehat.
Tradisi makan bersama di pesantren menawarkan gambaran lain. Kebersamaan tumbuh melalui pengalaman berbagi ruang, makanan, keterbatasan, dan tanggung jawab.
Orang yang duduk mengelilingi satu tampan harus memperhitungkan orang lain. Ia tidak bisa menghabiskan seluruh lauk sambil mengutip pidato tentang solidaritas. Perilakunya langsung memperlihatkan apakah ia sungguh menghargai kawan semeja.
Meski begitu, kita juga tidak perlu meromantisasi setiap kebiasaan tradisional. Makan bersama tidak otomatis melahirkan orang yang adil. Minum dari satu wadah tidak menjamin semua orang memiliki kepedulian yang sama.









