Bahasa daerah layak memperoleh perhatian karena menyimpan jejak kehidupan masyarakat. Tradisi lokal layak dipelajari karena memperlihatkan bagaimana nilai sosial tumbuh melalui tindakan sehari-hari.
Cerita Agus Basri membawa kita dari mikrofon Istana ke wadah aluminium di lingkungan pesantren. Jaraknya memang jauh, tetapi pertanyaan yang menghubungkan keduanya sederhana: apakah kebersamaan hanya tampak ketika orang berkumpul, atau tetap bekerja ketika kepentingan mulai bertabrakan?
Santri yang berbagi makanan menghadapi pertanyaan itu dalam ukuran kecil. Kabinet menghadapinya dalam ukuran negara. Yang satu berurusan dengan lauk di atas tampan, yang lain dengan anggaran, kekuasaan, dan nasib jutaan orang.
Ukurannya berbeda, tetapi prinsipnya serupa: setiap orang harus menyadari bahwa tindakannya memengaruhi orang lain.
Kalau ngokop bareng mengajarkan kebersamaan, mari kita ambil pelajarannya dengan jernih. Jangan berhenti pada nostalgia, jangan pula menjadikannya alat untuk mengultuskan tokoh.
Jadikan ia pengingat bahwa solidaritas memerlukan perilaku, bukan sekadar pernyataan. Sebab, dalam politik maupun dalam kehidupan sehari-hari, kekompakan paling mudah terlihat ketika semua orang tersenyum.









