Nikel, Hutan, dan Kesombongan Manusia: Antroposentrisme di Balik Luka Maluku Utara

oleh -339 views

Maluku Utara dan Jejak Luka Ekologi

Peribahasa lama mengatakan, “menepuk air di dulang, tepercik muka sendiri.” Ungkapan itu kini menemukan relevansinya di Maluku Utara. Di wilayah ini, eksploitasi sumber daya—khususnya melalui program hilirisasi nikel—telah membuka babak baru kerusakan ekologis.

Hutan-hutan yang dahulu menjadi penyangga kehidupan kini berubah menjadi lanskap tambang. Aktivitas land clearing menjadi pintu masuk bagi hilangnya tutupan hutan secara masif. Data menunjukkan, lebih dari 213 ribu hektare hutan telah terkepung oleh izin usaha pertambangan nikel.

Di Halmahera Timur, Halmahera Tengah, dan Halmahera Selatan, deforestasi bukan lagi ancaman—ia sudah menjadi kenyataan. Ratusan ribu hektare tutupan pohon hilang dalam dua dekade terakhir, disertai lonjakan emisi karbon yang signifikan. Angka-angka itu bukan sekadar statistik; ia adalah tanda luka yang menganga di tubuh alam.

Baca Juga  PP PERTINA Nyatakan Musprov Sulut Tidak Sah, Ini Sebabnya!

Dampaknya meluas: keanekaragaman hayati terancam, siklus air terganggu, dan stabilitas iklim kian rapuh. Alam kehilangan kemampuannya untuk memulihkan diri, sementara manusia terus mempercepat kerusakan.

Penutup: Mencari Etika Baru

Perdebatan tentang ideologi pembangunan mungkin tak akan pernah selesai. Namun satu hal menjadi jelas: kita membutuhkan cara pandang baru—sebuah etika yang tidak lagi menempatkan manusia sebagai penguasa tunggal, melainkan sebagai bagian dari jejaring kehidupan.

No More Posts Available.

No more pages to load.