Nikel, Hutan, dan Kesombongan Manusia: Antroposentrisme di Balik Luka Maluku Utara

oleh -269 views

Oleh: A. Malik Ibrahim, Politisi dan penulis

Antroposentrisme, secara harfiah, berarti menempatkan manusia sebagai pusat semesta. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani—anthropos (manusia) dan kentron (pusat)—yang dalam praktiknya menjelma menjadi keyakinan bahwa manusia adalah entitas paling signifikan di muka bumi. Dari keyakinan itulah lahir sebuah cara pandang: alam bukan lagi sahabat, melainkan sekadar alat.

Di titik ini, kita menyaksikan bagaimana gagasan tentang superioritas manusia perlahan, namun pasti, menjelma menjadi legitimasi bagi eksploitasi. Alam direduksi menjadi komoditas, dihitung dalam neraca untung-rugi, dan dikuras tanpa jeda. Antroposentrisme tidak lagi sekadar teori filsafat; ia telah menjadi ideologi diam-diam yang membentuk perilaku kolektif manusia modern.

Baca Juga  Jadi Khatib Iduladha, Menteri Nusron Ajak Umat “Sembelih” Ego dan Keserakahan

Sebagaimana dicatat oleh A. Sonny Keraf, pendekatan ini melahirkan etika lingkungan yang dangkal—shallow environmental ethics—karena memandang alam semata dalam relasi instrumental. Alam tidak memiliki nilai intrinsik; ia bernilai sejauh bermanfaat bagi manusia. Di sinilah problem mendasarnya: ketika nilai alam ditentukan oleh kepentingan manusia, maka kehancurannya pun akan selalu bisa dibenarkan.

Lebih jauh, antroposentrisme menciptakan paradoks. Ia mengklaim menolak kerusakan, namun pada saat yang sama menempatkan alam sebagai sesuatu yang harus ditundukkan. Rasionalitas instrumental yang menjadi fondasinya justru melahirkan pola perilaku eksploitatif, destruktif, dan abai terhadap keberlanjutan.

No More Posts Available.

No more pages to load.