Jangan Buru-buru Menuduh, Dengarkan Kegelisahannya
Wacana federasi tidak seharusnya dibaca secara kasuistis dan berdiri sendiri. Ia muncul dalam lanskap kebangsaan yang sedang menghadapi berbagai persoalan serius mengenai relasi pusat-daerah, distribusi sumber daya, ketimpangan pembangunan, serta rasa keadilan.
Di Papua, persoalan separatisme dan konflik bersenjata belum sepenuhnya menemukan jalan keluar. Di Aceh, simbol-simbol identitas lokal masih sesekali muncul dalam ruang politik dan sosial. Di sejumlah wilayah Kalimantan, sentimen mengenai identitas dan pengelolaan sumber daya juga terus menjadi bagian dari percakapan publik.
Tentu, setiap daerah memiliki sejarah, konteks, dan karakter persoalannya sendiri. Tidak tepat menyamakan semuanya sebagai satu gerakan yang seragam.
Namun ada satu benang merah yang patut dicermati: ketika masyarakat merasa negara tidak hadir secara adil, identitas lokal akan mendapatkan energi politik yang lebih besar.
Di sinilah persoalannya.
Selama ini, kita terlalu sering menggunakan pendekatan keamanan untuk menjawab kegelisahan politik daerah. Ketika muncul suara berbeda, respons yang paling mudah adalah mengingatkan bahwa “NKRI harga mati”.
Kalimat itu memang memiliki daya simbolik yang kuat. Tetapi ia tidak boleh berubah menjadi tameng untuk menutup ruang kritik.










