Nobel untuk Jurnalisme

oleh -4 Dilihat

Tidak sama sekali. Para penguasa bahkan tidak merasa perlu untuk terlibat. Yang perlu mereka lakukan adalah menciptakan sebuah komunitas yang dengan sukarela menerima asupan ‘alternate facts.’

Mereka menciptakan gelembung dan mengundang orang-orang yang tertarik untuk hidup di dalamnya. Orang-orang yang hidup dalam gelembung kenyataan benar-benar diarahkan untuk mengamini dan membela apa saja yang dikatakan penguasa. Dan apa yang dikatakan penguasa itu dibikin ‘semasuk akal’ mungkin.

Sehingga, apa yang dibayangkan oleh komite Nobel itu sesungguhnya tidak sesederhana masyarakat vs. negara. Saat ini yang terjadi adalah masyarakat sipil vs. masyarakat sipil. Penguasa membikin sebuah komunitas masyarakat sipil yang percaya pada ‘alternate facts’ tersebut.

Baca Juga  SPBU Kamal Diduga Jual BBM ke Pengecer, Disperindag SBB Bakal Panggil Pengelola

Selama beberapa hari ini saya memperhatikan satu liputan yang sungguh mengenaskan. Itu adalah laporan dari Project Multatuli (PM), sebuah media baru yang diasuh oleh jurnalis-jurnalis paling idealis di negeri ini. Laporan mereka tentang perkosaan tiga anak kecil oleh ayah kandung mereka sendiri di Kab. Luwu Timur, Sulawesi Selatan, menyentuh demikian banyak saraf.

Polisi mengatakan bahwa laporan PM tersebut adalah hoax. Para pembela pemerintah dan polisi menyerang habis-habisan PM di media sosial. Puncaknya adalah ketika website Project Multatuli diretas. Sejak kemarin website ini tidak bisa diakses.

No More Posts Available.

No more pages to load.