Disamping hal menyedihkan yang menimpa PM, ada juga yang memberi harapan. Segera setelah website PM diretas, beberapa media menyatakan solidaritas mereka dengan memuat ulang berita yang ditayangkan oleh PM tersebut. Sepanjang ingatan saya, ini pertama kali solidaritas antar media di Indonesia terjadi.
Akan tetapi, bagaimana pun juga ada hal yang tidak terselesaikan. Itu adalah pembentukan komunitas gelembung yang membela penguasa membabi buta sehingga mereka tidak bisa diminta pertanggungjawaban atas ketidakberesan serta penyelewengan-penyelewengan yang mereka lakukan.
Bahkan Komite Nobel sekali pun masih meraba-raba untuk menyelesaikan ini. Jika, seperti kata Maria Ressa, kepercayaan (trust) mengikat kuat kita satu sama lain, maka para penguasa ini langsung menyerang ‘trust’ tersebut dengan mempertanyakan kredibilitas berita, menyemai keraguan dengan alternate facts, serta menyerang dan mengintimidasi pembawa berita. Berita dan liputan yang kredible dengan segera menjadi berita palsu (fake news) dan hoax.
Para penguasa — termasuk di negeri ini — tidak saja berkuasa dengan represi tetapi juga dengan manipulasi. Teknologi memberikan kemampuan baru (empower) para penguasa ini dengan menciptakan komunitas gelembung (bubble community) yang hidup dalam alternate facts tadi. Sehingga kita, anggota masyarakat ini, diadu satu sama lain. (*)









