O Deru Galela

oleh -163 views
Link Banner

Oleh: Muhammad Diadi, Penulis, Pelaku Budaya Galela

Orang Galela menyebut perahu adalah O Deru seperti yang di catat oleh seorang misionaris Galela bernama M.J. Van Baarda dalam kamusnya yang berjudul ; GALELAREESCH-HOLLANDASCH (1895: 95-96).

Dia mencatat bahwa penyebutan perahu di Galela disebut O Deru Ma Awa (cano bercadik).

Seorang Naturalis Eropa Alfred Ruseel Wallace mencatat bahwa di semenanjung Jailolo Utara suku Alfuru dari Galela, mereka bukan ras Melayu juga bukan ras Melanesia, berwajah seperti orang Papua dikelilingi bulu-bulu, namun kulit mereka seperti orang Melayu artinya mereka bangsa Melayu Polinesia. Selain sagu dan pisang, ikan merupakan makanan pokok dan makanan khas mereka.

Link Banner

Orang Galela sendiri adalah (juga) para penjelajah samudera yang handal dan besar wilayahnya, yang dapat ditemukan di mana-mana di timur Kepulauan dengan perahu yang mereka buat sendiri. Mereka juga para pemburu yang handal rusa dan babi hutan, ikan penyu dan tripang (mentimun), akan tetapi mereka juga menanam padi dan jagung. Mereka tampak seperti orang Papua. Bahasanya juga dianggap bahasa Papua, tapi sebagian orang Galela sendiri berlayar dengan perahu yang cukup besar (P. Boomgaard, 2001).

Baca Juga  BMKG Cabut Peringatan Dini Tsunami Pasca-gempa Jailolo 7,1 M

Bentuk Cano bercadik dan tidak bercadik di Galela dijelaskan banyak oleh seorang Antropolog eropa bernama James Hornell, F.L.S., F.R.A.I. dalam Jurnalnya berjudul: THE OUTRIGGER CANOES OF INDONESIA (1921: 57-62).

Ket. Foto: Perahu cano bercadik yang memuat tentara sekutu di Morotai (1944).

Dalam jurnal tersebut menjelasakan sebagai berikut:

Perahu bercadik dari Galela sering digunakan dalam pelayaran berdagang dan membawa berbagai jenis bahan makanan sagu,ubi-ubian, daging dan beras untuk di jual di berbagai pulau di Maluku terutama di pulau Ternate dan Bacan.

Orang-orang Galela sangat pandai dalam pembuatan perahu, mereka menghormati perahu mereka seperti istri dan anak mereka di mana perahu diberikan tempat khusus dalam struktur sosial masyarakat.

Bagi orang Galela yang hidup di bagian pesisir Galela mereka menjadikan perahu sebagai bentuk atap rumah sebagai simbol bahwa mereka adalah pelaut, mereka berlayar hingga berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan untuk mencari bahan makanan jika telah habis, jika bahan makanan sudah dirasa cukup mereka kembali ke wilayahnya.

Baca Juga  Nelayan Maluku: Miskin di Lumbung Ikan

Dalam pembuatan perahu orang Galela mengunakan kayu Gofasabatu yang mudah didapat di kebun-kebun mereka yang jauh dari pemukiman.

Bagian perahu yang disebut lunas berukuran 3 1/2 inci, Panjang perahu 20,22 dan 24 sesuai dengan kebutuhan pengguna. batangan kayu utama pada bagian bawah dari kerangka dasar perahu papan, sedangkan dasar adalah bagian bawah dari perahu lesung. Lambung adalah bentuk dinding perahu. Linggi adalah bentuk tambahan perahu pada bagian haluan atau buritan yang menonjol ke atas.

Sedangkan dayung merupakan alat kayuh perahu terbuat dari batang kayu yang memanjang dengan bentuk pipih di bagian ujungnya. Pada bagian pangkal dayung biasanya terdapat hiasan. Bentuk kemudi menyerupai dayung yang agak tebal pada bagian ujungnya, berfungsi sebagai pengarah perahu dan umumnya terdapat di bagian buritan perahu, penggambaran kemudi pada motif perahu di seni cadas dapat menentukan arah orientasi motif perahu.

Perahu Cano bercadik milik orang Galela memiliki motif hewan pada tiang-tiang pada ruas perahu atau biasa disebut mafana seperti seekor ular memakan anjing atau burung elang (khodoba) yang sedang menangkap ikan serta motif pedang, perisai dan tombak pada badan perahu, mereka mempercayai bahwa dengan adanya motif seperti itu arwah lelehur mereka selalu melindungi mereka dalam pelayaran jauh.

Baca Juga  Polres Bitung Bongkar Sindikat Prostitusi Online

Berbeda dengan perahu-perahu seperti di daerah Buli, Kao dan Tobelo yang perahunya tidak memiliki motif seperti pada perahu Galela.

Perahu cadik orang Galela mengunakan rumah sebagi tempat beristrahat ketika melakukan perjalanan jauh bahkan dalam pelayaran ke pulau lain seperti Morotai, Tidore dan Sula, orang Galela membawa serta keluarga mereka untuk membantu ketika dibutuhkan. Warna perahu orang Galela kebanyakan berwarna hitam yang dibuat dari akar-akar pepohonan.

Budaya Tohiku (pelayaran), sudah ada jauh sebelum bangsa Portugis dan Eropa datang ke pulau Maluku bahkan orang-orang ini juga bermukmin di kepulauan Filipina mereka mengembara dari pulau ke pulau demi mempertahankan hidup serta menjadi pelaut yang handal. (*)