Bentuk Cano bercadik dan tidak bercadik di Galela dijelaskan banyak oleh seorang Antropolog eropa bernama James Hornell, F.L.S., F.R.A.I. dalam Jurnalnya berjudul: THE OUTRIGGER CANOES OF INDONESIA (1921: 57-62).

Dalam jurnal tersebut menjelasakan sebagai berikut:
Perahu bercadik dari Galela sering digunakan dalam pelayaran berdagang dan membawa berbagai jenis bahan makanan sagu,ubi-ubian, daging dan beras untuk di jual di berbagai pulau di Maluku terutama di pulau Ternate dan Bacan.
Orang-orang Galela sangat pandai dalam pembuatan perahu, mereka menghormati perahu mereka seperti istri dan anak mereka di mana perahu diberikan tempat khusus dalam struktur sosial masyarakat.
Bagi orang Galela yang hidup di bagian pesisir Galela mereka menjadikan perahu sebagai bentuk atap rumah sebagai simbol bahwa mereka adalah pelaut, mereka berlayar hingga berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan untuk mencari bahan makanan jika telah habis, jika bahan makanan sudah dirasa cukup mereka kembali ke wilayahnya.
Dalam pembuatan perahu orang Galela mengunakan kayu Gofasabatu yang mudah didapat di kebun-kebun mereka yang jauh dari pemukiman.
Bagian perahu yang disebut lunas berukuran 3 1/2 inci, Panjang perahu 20,22 dan 24 sesuai dengan kebutuhan pengguna. batangan kayu utama pada bagian bawah dari kerangka dasar perahu papan, sedangkan dasar adalah bagian bawah dari perahu lesung. Lambung adalah bentuk dinding perahu. Linggi adalah bentuk tambahan perahu pada bagian haluan atau buritan yang menonjol ke atas.





