Trump bahkan menyatakan sedang mempertimbangkan operasi militer yang lebih besar terhadap Iran.
“Saya sedang mempertimbangkan serangan besar-besaran, lebih besar dari sebelumnya. Kami siap untuk itu,” ujarnya seperti dikutip IBTimes, Jumat (24/7/2026).
Sementara itu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengungkapkan operasi militer terhadap Iran telah menghabiskan sedikitnya US$37,5 miliar. Ia memperingatkan militer AS menghadapi tekanan logistik apabila Kongres tidak segera menyetujui tambahan anggaran darurat.
Di pihak lain, media pemerintah Iran melaporkan serangan rudal di Pulau Qeshm, Selat Hormuz, serta serangan di wilayah perbatasan Shalamech yang diklaim menewaskan dua orang dan melukai sebelas lainnya.
IRGC juga mengklaim pernah menyerang fasilitas perang elektronik AS di Pangkalan Udara Al-Udeid, Qatar, dan merusak menara pengatur lalu lintas udara. Hingga kini, klaim tersebut belum memperoleh konfirmasi independen.
Meningkatnya eskalasi konflik turut memicu kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran internasional, terutama di Selat Hormuz dan Laut Merah. Gangguan terhadap distribusi energi global kembali mendorong harga minyak dunia menguat dan meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi internasional.










