Menurut data yang ditemukan oleh para saintis pula, alam semesta pada mulanya merupakan satu bagian. Lalu terjadi dentuman besar (big bang), akhirnya semua terpisah dan mengembang, menjauh. Sementara fakta lainnya yang telah para ilmuan temukan, ternyata semua benda kosmos sedang bergerak kembali untuk menyatu seperti semula. Dan pada puncaknya dentuman kembali terjadi.
Alam fisik akan binasa. Dalam kondisi itu, di mana manusia, dan ke mana mereka? Ilmu alam tak mampu memberikan jawaban lebih, apalagi memuaskan, selain jawaban umum bahwa segala sesuatu akan hancur pula sebagaimana benda-benda fisik lainnya.
Paradigma kebudayaan kita telah menjawabnya. Sebelum para ilmuan mampu menemukan fakta-faktanya. Dalam filsafat kebudayaan kita, ada semacam keyakinan standar, bahwa segala sesuatu yang berjasad akan binasa. Sementara roh, tidak. Roh kekal, abadi. Ia bahkan tak berpindah ke mana-mana. Sebab roh tak pernah bertempat, dan tak pernah beralamat. Ia ada pada diri manusia, tapi bukan di dalam jasad manusia. Ia menggerakkan manusia, tapi bukan seperti supir yang secara mekanis keluar masuk kendaraannya.
Roh adalah satu eksistensi yang tak membutuhkan raga. Namun kita mampu beroleh spirit darinya. Di Maluku, kita sering memeringatinya dengan sebutan, hari ‘Aroha’.










