Paradigma Roh Dalam Kebudayaan Maluku

oleh -219 views
Link Banner

Oleh: M. Fazwan Wasahua, pegiat Kebudayaan

Jika kebudayaan itu lahir dari tradisi, dan tradisi adalah perilaku individu dan masyarakat secara kolektif, sementara perilaku adalah bentuk aplikatif dari paradigma, dan paradigma adalah wujud kesadaran mengenai eksistensi manusia, maka kebudayaan satu masyarakat sangat ditentukan oleh paradigma masyarakatnya yang paling sublim.

Sungguh, tak kudapati pardigma kebudayaan Maluku kecuali lahir dari kesadaran penghambaan kepada Tuhan yang Maha kuasa. Tuhan yang Maha kuasa itu, orang Maluku secara umum menyebutnya: Upu Lanit’o, Upu Rasta’ala, Upu wata’ala, dan lain sebagainya.

Artinya, kebudayaan Maluku dibangun di atas dasar religiusitas yang kokoh. Sebagai pijakan yang kuat. Sebagaimana tergambar dalam setiap mantra yang sering kali anak cucu Maluku dengungkan pada momentum tertentu kehidupannya yang sedang terdesak, dengan harapan ketika panggilan roh itu terkoneksi, maka roh mampu menguatkannya, mengangkat semangatnya yang mulai rapuh, keberaniannya yang mulai luruh. Dan mantra tunggal itu adalah: “Barakate Upu Lanit’o”.

*
Kita menyaksikan dalam setiap aspek kehidupan orang Maluku yang masih memegang kuat tatanan tradisi para leluhur, mesti mendasarkan setiap tingkah laku dan juga ritus adat-istiadat nya bukan hanya pada dimensi duniawi semata, tapi juga pada dimensi ‘kelangitan’, suatu keyakinan dengan basis spiritualitas yang dalam kepada Tuhan sumber kehidupan.

Paradigma kelangitan itu telah membentuk kesadaran orang Maluku secara kompleks. Sehingga dalam pola perilakunya, mereka, selain membangun relasi secara horizontal, juga meyakininya sebagai bentuk penghubungan diri melalui jalan vertikal. Paradigma semacam ini disadari betul oleh setiap generasi Maluku yang masih berpegang pada nilai tradisinya. Dengan kata lain, kehidupan di alam fisik, tak boleh dipahami demata-mata secara fisik. Ada hal lain yang lebih halus dibalik setiap yang fisik.

Artinya, konsep semacam ini jika kita telusuri lebih dalam, maka semacam ada pesan yang jelas yang ingin disampaikan oleh para leluhur kepada kita, bahwa alam fisik tak berdiri sendiri.

Jika paradigma semacam diatas ditinjau dari sudut pandang ilmu alam (sains) kekinian, maka semua konsep itu dipandang aneh, lucu, dan membingungkan. Sebab dalam tinjauan sains, alam semesta, yakni setiap aktifitas kosmos tak lebih dari atom-atom yang bergerak. Jika ada hal lain yang belum diektahui, maka itu adalah benda fisik yang belum bernama atau ternamai.
Namun, mari kita tinjau alam semesta secara kosmologis dari sudut pandang sains sendiri.

Baca Juga  Masa Kecil dan Masa Depan

Diketahui bahwa kosmos bergerak pada orbitnya, namun pada saat yang sama ia sedang bergerak menuju sesuatu yang lain, dan itu bukan matahari, atau pusat tata surya tertentu.

Menurut data yang ditemukan oleh para saintis pula, alam semesta pada mulanya merupakan satu bagian. Lalu terjadi dentuman besar (big bang), akhirnya semua terpisah dan mengembang, menjauh. Sementara fakta lainnya yang telah para ilmuan temukan, ternyata semua benda kosmos sedang bergerak kembali untuk menyatu seperti semula. Dan pada puncaknya dentuman kembali terjadi.

Alam fisik akan binasa. Dalam kondisi itu, di mana manusia, dan ke mana mereka? Ilmu alam tak mampu memberikan jawaban lebih, apalagi memuaskan, selain jawaban umum bahwa segala sesuatu akan hancur pula sebagaimana benda-benda fisik lainnya.

Paradigma kebudayaan kita telah menjawabnya. Sebelum para ilmuan mampu menemukan fakta-faktanya. Dalam filsafat kebudayaan kita, ada semacam keyakinan standar, bahwa segala sesuatu yang berjasad akan binasa. Sementara roh, tidak. Roh kekal, abadi. Ia bahkan tak berpindah ke mana-mana. Sebab roh tak pernah bertempat, dan tak pernah beralamat. Ia ada pada diri manusia, tapi bukan di dalam jasad manusia. Ia menggerakkan manusia, tapi bukan seperti supir yang secara mekanis keluar masuk kendaraannya.

Roh adalah satu eksistensi yang tak membutuhkan raga. Namun kita mampu beroleh spirit darinya. Di Maluku, kita sering memeringatinya dengan sebutan, hari ‘Aroha’.

Aroha dari kata Roh, Ruh. Ia bukan chip atau program yang dipasang ke media elektronik dengan berbagai macam kabel. Ia bersifat nirkabel, nirmateri. Sebab ia bukan fisis. Ia spirit, bahkan lebih dari spirit. Roh itu sendiri yang menyebabkan spirit menjadi spirit. Karena roh begitu penting dalam falsafah kehidupan orang Maluku, maka kita selalu memanggilnya dalam setiap peringatan, dan upacara-upacara adat.

Aroha dalam beberapa keyakinan juga dianggap sebagai jalan. Jalan spiritual menuju spirit roh para leluhur. Jadi aroha adalah peringatan dan penyatuan dengan roh para leluhur. Dengan demikian, sebenarnya, makna dasar ritual aroha bukanlah peringatan kepada jasad nenek moyang. Sebab jasad mereka telah dimakan cacing, berkalang tanah. Akan tetapi yang kita peringati adalah roh mereka. Dan roh mereka adalah sesuatu yang lain. Ia tak empiris, namun kita mampu menghubungkan diri dengan roh itu.

Baca Juga  Kunker Ke Pulau Kasiruta, Kakankemenag Pesankan Kebersamaan dan Persatuan

Setiap manusia memiliki roh. Oleh karena itu maka roh kita mampu berhubungan dengan roh lainnya. Persoalannya, apa yang mampu menghubungkan tiap-tiap roh itu dengan diri kita? Disinilah letak kejeniusannya para upu-upu yang telah mewariskan paradigma semacam itu kepada kita, lalu mengaktualisasikannya dalam pola relasi anak cucunya, yang kokoh dalam pranata ritual adat-istiadatnya.

Konektifitas perhubungan antar roh–selalu–adalah dengan mengucapkan beberapa mantra. Mantra-mantra itu kini dikenal dan dibahasakan dalam berbagai macam tradisi; kaum agamawan menyebutnya wasilah, sementara ilmuan menyebutnya kodetifikasi, dan dalam tradisi digital menyebutnya password. Intinya, satu kata kunci yang dapat menghubungkan satu saluran dengan saluran lainnya. Begitu pula yang terjadi pada roh kita. Ketika kita mampu menemukan mantranya, maka kita akan mampu melejit menembus cakrawala roh yang tak berhingga.

*
Manusia Abad 21, sebagian besar, akan menertawakan cerita-cerita yang datang dari Abad yang disebut kuno: tentang piramida, bait solomon, istana balqis, candi sewu, isra’ mi’raj, berjalan di atas air, mengendarai awan, dan banyak lagi semacam itu sebagai tahayul, dongeng, legenda, mitos. Namun mungkin saja, kecanggihan teknologi saat ini bagi manusia 1000 Tahun lalu pun adalah tahayul dan mitos.

Manusia zaman itu, menurut kita, mustahil mampu berkomunikasi secara visual atau audio visual dengan manusia lain yang berbeda pulau, jarak, waktu. Jika saya hidup pada abad 15 atau abad 21 SM, dan saya sedang berada di pulau kecil seperti Ambon, namun mampu berinteraksi; bercakap-cakap sambil menikmati lezatnya ‘roti bale-bale’ panas (sejenis pizza, khas orang Maluku) dan atau bertatap wajah dengan teman saya yang saat ini ada di Jepang, Amerika, atau Mesir, maka menurut manusia saat ini itu adalah kemustahilan, hanyalah cerita mitos dan tahayul, mengada-ada.

Di abad 21, semua hal yang ketika terjadi pada abad 21 sebelum masehi kita anggap mustahil, sedang terjadi, dan kita menikmatinya. Hanya saja kita tidak menganggapnya tahayul, mitos, legenda yang mengada-ada, hanya karena semua itu terjadi dengan media empiris, yang dapat kita lihat dengan mata kepala.

Sederhananya, yang tak empiris mustahil nyata.
Mari kita kembali ke roh. Bagaimana kita membuktikannya? Sementara roh, satu istilah yang mungkin dalam kamus para ilmuan pun tak ada. Jikalau pun ada, pasti telah mengalami empirisasi. Sebagaimana yang terjadi pada akal, yang telah direduksi oleh para ahli neurosains. Atau hati, yang telah mengalami penyempitan makna, tak lebih dari sekadar perasaan buah rekasi fisis manusia.

Baca Juga  Brimob Maluku Laksanakan Patroli Imbauan dan Pemetaan Lokasi Penyemprotan Cairan Disinfektan

Lalu, bagaimana manusia mampu mencipta. Bagaimana manusia 2000, 4000, atau 6000 Tahun lalu mampu membangun kota-kotanya yang megah. Bagaimana mereka mampu membangun menara dan gedung pencakar langit yang kokoh dan mampu bertahan hingga saat ini. Dengan kekuatan apa mereka mampu melakukannya? Saya menjawabnya. Mereka mampu melakukan semuanya karena ada roh pada diri mereka. Roh yang hidup. Roh yang menuntun manusia untuk membangun peradabannya. Roh itu pula yang selalu terwarisi dari satu generasi ke generasi, berpindah dari satu manusia ke manusia lainnya. Roh yang selalu diperingati dengan berbagai macam cara, ritual.

Dalam ritual tertentu, roh masih kita panggil dengan berbagai macam mantra, doa, password, atau kode-kode alam. Roh itulah yang sampai saat ini masih kita peringati pada acara-acara adat. Ritualnya masih kuat dalam kebudayaan kita. Hanya saja ia kehilangan maknanya, dan tentu saja, juga sakralitasnya. Padahal, tujuan utama ritual mengadakan acara peringatan roh, adalah untuk mengoneksikan diri kita dengan roh mereka, roh yang mampu menundukkan matahari, awan, bulan, gunung, juga lautan. Roh yang mampu menjadikan kita tuan di antara mahluk lain di universe yang tak terhingga.

Namun semua paradigma dan fasilitas peninggalan par leluhur dianggap aneh, kuno, tak sesuai zaman. Gadget lebih bermakna daripada mantra-mantra. Resep dokter lebih mujarab ketimbang air putih yang telah dibacakan mantra oleh tatua-tatua.

Padahal, dulu, kita yang lahir di bawah Tahun 95 banyak disembuhkan olehnya. Hantaman badai empirisme menghancurkannya. Paradigma materialisme membuat paradigma supranatural yang maha canggih ini mulai–dan dalam arus digitalisasi, kita tak menemukannya sama sekali–ditinggalkan oleh generasi.

Lalu, apa yang tersisa? Kita sedang menyaksikan keruntuhan pranata itu secara perlahan. Dan yang tertinggal hanyalah memori tentangnya, dan mungkin saja, 50 Tahun lagi semua akan hilang, dan akhirnya, kita menjadi manusia yang hidup dengan budaya lain, yang terasing dari budaya kita sendiri, yang tak memiliki keterhubungan sama sekali dengan gen ideologis para leluhur kita, yang tersisa hanyalah, cerita legenda!

Salam Budaya… (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.