Paradigma Roh Dalam Kebudayaan Maluku

oleh -8 Dilihat

Oleh: M. Fazwan Wasahua, pegiat Kebudayaan

Jika kebudayaan itu lahir dari tradisi, dan tradisi adalah perilaku individu dan masyarakat secara kolektif, sementara perilaku adalah bentuk aplikatif dari paradigma, dan paradigma adalah wujud kesadaran mengenai eksistensi manusia, maka kebudayaan satu masyarakat sangat ditentukan oleh paradigma masyarakatnya yang paling sublim.

Sungguh, tak kudapati pardigma kebudayaan Maluku kecuali lahir dari kesadaran penghambaan kepada Tuhan yang Maha kuasa. Tuhan yang Maha kuasa itu, orang Maluku secara umum menyebutnya: Upu Lanit’o, Upu Rasta’ala, Upu wata’ala, dan lain sebagainya.

Artinya, kebudayaan Maluku dibangun di atas dasar religiusitas yang kokoh. Sebagai pijakan yang kuat. Sebagaimana tergambar dalam setiap mantra yang sering kali anak cucu Maluku dengungkan pada momentum tertentu kehidupannya yang sedang terdesak, dengan harapan ketika panggilan roh itu terkoneksi, maka roh mampu menguatkannya, mengangkat semangatnya yang mulai rapuh, keberaniannya yang mulai luruh. Dan mantra tunggal itu adalah: “Barakate Upu Lanit’o”.

*
Kita menyaksikan dalam setiap aspek kehidupan orang Maluku yang masih memegang kuat tatanan tradisi para leluhur, mesti mendasarkan setiap tingkah laku dan juga ritus adat-istiadat nya bukan hanya pada dimensi duniawi semata, tapi juga pada dimensi ‘kelangitan’, suatu keyakinan dengan basis spiritualitas yang dalam kepada Tuhan sumber kehidupan.

No More Posts Available.

No more pages to load.