Paradigma Roh Dalam Kebudayaan Maluku

oleh -27 Dilihat

Dalam ritual tertentu, roh masih kita panggil dengan berbagai macam mantra, doa, password, atau kode-kode alam. Roh itulah yang sampai saat ini masih kita peringati pada acara-acara adat. Ritualnya masih kuat dalam kebudayaan kita. Hanya saja ia kehilangan maknanya, dan tentu saja, juga sakralitasnya. Padahal, tujuan utama ritual mengadakan acara peringatan roh, adalah untuk mengoneksikan diri kita dengan roh mereka, roh yang mampu menundukkan matahari, awan, bulan, gunung, juga lautan. Roh yang mampu menjadikan kita tuan di antara mahluk lain di universe yang tak terhingga.

Namun semua paradigma dan fasilitas peninggalan par leluhur dianggap aneh, kuno, tak sesuai zaman. Gadget lebih bermakna daripada mantra-mantra. Resep dokter lebih mujarab ketimbang air putih yang telah dibacakan mantra oleh tatua-tatua.

Baca Juga  Bupati Ubaid Yakub Bahas Pembangunan Kantor PN Halmahera Timur

Padahal, dulu, kita yang lahir di bawah Tahun 95 banyak disembuhkan olehnya. Hantaman badai empirisme menghancurkannya. Paradigma materialisme membuat paradigma supranatural yang maha canggih ini mulai–dan dalam arus digitalisasi, kita tak menemukannya sama sekali–ditinggalkan oleh generasi.

Lalu, apa yang tersisa? Kita sedang menyaksikan keruntuhan pranata itu secara perlahan. Dan yang tertinggal hanyalah memori tentangnya, dan mungkin saja, 50 Tahun lagi semua akan hilang, dan akhirnya, kita menjadi manusia yang hidup dengan budaya lain, yang terasing dari budaya kita sendiri, yang tak memiliki keterhubungan sama sekali dengan gen ideologis para leluhur kita, yang tersisa hanyalah, cerita legenda!

No More Posts Available.

No more pages to load.