Oleh: Asghar Saleh, Politisi dan Pegiat Sosial
“Puisi membawa apa yang tak terkatakan, sebagaimana adanya ke dunia – seakan akan untuk pertama kalinya”.
Martin Heidegger mengatakan ini untuk mengingatkan daya puisi. Ia tak sekedar kumpulan kata-kata. Bukan pula gerak dialektis antara kosmos dan khaos, antara anarki dan harmoni tetapi lebih dari itu, puisi jadi rumah bagi kata-kata yang bergerak secara kontinyu antara bunyi dan arti, antara dorongan ekspresif dan niatan berkomunikasi. Tak hanya menggambarkan keterkesimaan. Ia kadang menyemburkan perlawanan. Mewakili yang gelisah dan cemas.
Seturut itu, saya tertarik pada sebuah puisi karya WS Rendra, “Sajak Seorang Tua Untuk Isterinya”. Puisi ini dikirimkan isteri seorang pegawai KPK yang diberhentikan dengan dalih tak lulus tes wawasan kebangsaan. Saya membaca dengan haru. Ia menjemput suaminya untuk “pulang” karena tugas telah usai. Meski yang usai itu berujung sebuah penghinaan oleh pimpinan kepada mereka yang puluhan tahun bekerja menangkap pencuri uang rakyat. Saya memilih “penghinaan” karena pemberhentian itu sebuah laku terkutuk yang didesain dengan banyak cara.
Puisi ini memulihkan kebisuan. Ia menghadirkan kembali “sesuatu” yang dipinggirkan dalam ruang diskursif. Menjadi penanda jika kehormatan adalah kepingan lain dari sebuah kepribadian. Sebuah entitas yang puguh.








