Sepakbola dan politik, sesungguhnya sama-sama bertujuan menggapai kebahagiaan (happiness), karena semua insan berusaha keras mencapai kebahagiaan, kekayaan, popularitas hingga kejayaan dalam kehidupannya untuk berkuasa. Dalam hal sepakbola, yang dikejar adalah gol sebanyak mungkin untuk memenangkan laga serta gol secara personal kepentingan popularitas, kekayaan. Lantas bagaimana dengan politik? Setiap kegiatan politik selalu mekat pada kedudukan dan kekuasaan.
Konsep ini sengaja diurai lewat opini sebagai wujud responsifitas publik dalam menengok perkembangan sepakbola Indonesia. Dengan mempunyai hubungan kausalitas yang cukup empiris. Eksperimen Profesor Tjipta Lesmana dalam bukunya yang berjudul “Bola Politik dan Politik Bola; Ke mana Arah Tendangannya ?”(2013) relatif telah menghubungkan variabel sepakbola dan politik dan secara empiris cukup menceritakan banyak hal yang terjadi dalam sepakbola; strategi, pemain bintang glamor/selebritas, gaji besar/biaya besar, mafia, skandal dan beberapa unsur lainnya.
Jika politik haus akan kekuasaan, maka sepakbola profesional haus akan prestise, fame, uang yang tentu berujung kekuasaan dalam arti luas. Dari perspektif tujuan (goal) sepakbola dan politik, pada akhirnya uang dan kekuasaan yang dikejar oleh kedua permainan ini.









