Pembajakan Masih Marak di Industri Musik, Dulu Fisik Sekarang Digital

oleh -7 views
Link Banner

Porostimur.com | Jakarta: General Manager Asosiasi Industri Rekaman Indonesia (ASIRI) Braniko Indhyar mengatakan pembajakan masih menjadi tantangan yang harus dihadapi pelaku industri musik di era digital. “Bicara soal tantangan industri musik di era digital, saya kira, masih (soal) pembajakan. Dulu (menikmati karya musik) secara fisik, tapi sekarang digital. Saat ini juga website yang convert video ke bentuk .mp3 juga banyak banget,” kata Braniko melalui diskusi virtual bertajuk JOOX Indonesia Music Awards 2021 pada Senin 7 Juni 2021.

“Misalnya sudah ada yang ditutup (take down), nanti mereka keluar lagi dengan nama dan domain yang lain. Ini masih PR (pekerjaan rumah) dan kita harus continue untuk membenahinya,” ujarnya menambahkan.

Baca Juga  Kapolda Maluku Wajibkan Anggotanya Gunakan Masker Saat Beraktivitas untuk Cegah Covid-19

Selain maraknya laman web yang bisa digunakan untuk mengonversi format video ke audio seperti .mp3, pria yang akrab disapa Niko itu mengatakan ada juga sejumlah aplikasi ilegal yang menyediakan musik yang dibajak.

Niko melanjutkan, pihaknya telah bekerja sama dengan berbagai pihak termasuk pemerintah demi memberantas pembajakan lagu. “Kami koordinasi dengan Kementerian Kominfo dan Kemenkumham untuk menutup atau menurunkan (take down) web itu dari search engine,” kata dia.

Meski demikian, Niko tidak menampik bahwa era digital yang semakin dinamis juga memberikan banyak kemudahan, baik bagi musisi, label musik, serta penggemarnya. “Label (musik) masih terus berproduksi bikin lagu, album, event untuk menggaet fans. Promosi sekarang juga sudah beda banget, dan sekarang ‘jualan’ juga lebih gampang. Apalagi dengan aplikasi streaming musik dan fitur interaktif di dalamnya,” kata Niko.

Baca Juga  Soal Israel-Palestina, Rocky Gerung: Jokowi Tak Diangggap di Internasional

“Selain mempermudah label dan musisi, ini juga mempermudah fans-nya. Fitur interaktif juga membuat gap antara musisi dan fans bisa dibilang tidak ada,” katanya.

(red/cantika)