Pada 1990, AS menangkap Presiden Panama Manuel Noreiga dan dipenjarakan di AS. Sebagaimana Presiden Venezuela Nicolas Maduro, Noreiga dituduh bekerja sama dengan kartel narkoba yang menyelundupkan narkoba ke AS. Kini, sejak 3 Januari, Maduro bersama istrinya, Cilia Flores, diculik dan diadili di Pengadilan New York.
Tindakan sewenang-wenang Trump yang menerabas kedaulatan negara yang menjadi dasar tatanan internasional menuai kecaman luas. Di dalam negeri pun Trump ditentang karena melanggar UU tentang Perang yang harus dengan persetujuan Kongres. Ia bukan hanya cuek terhadap reaksi internasional, tapi juga mengancam negara lain. Misalnya, Meksiko, Kolombia, dan Kuba.
Situasi politik Venezuela kini tak menentu. Kendati Presiden Interim Venezuela Delcy Rodriguez telah menawarkan kerja sama saling menguntungkan — asalkan kedaulatan Venezuela dan proses politiknya tak dicampuri – Trump menolak. Dan menegaskan perusahaan-perusahaan minyak AS akan kembali ke sana untuk mengeksploitasi minyak di Venezuela. Dus, nyata sekarang bahwa pendorong penculikan Maduro bukan masalah narkoba, melainkan minyak.
Penguasaan minyak Venezuela dengan reservasi terbesar di dunia, serta berbagai mineral strategis, akan meningkatkan pengaruh besar AS di tingkat global, sekaligus “mengusir” Cina dan Rusia dari sana. Cina telah berinvestasi di negara itu sebesar 4,8 miliar dollar AS dan piutang sebesar 14-16 miliar dollar AS. Rusia memiliki perjanjian kerja sama pertahanan dengan Venezuela.











