Tak heran, negara besar UE seperti Perancis dan Inggris melawan ambisi Trump. Invasi AS ke Greenland akan lebih jauh melemahkan posisi moral dan legal AS vis a vis Rusia, Cina, dan UE sendiri. Tapi MAGA “meniscayakan” pendudukan AS atas Greenland. Kalau upaya bipartisan Kongres gagal mengekang ambisi perang Trump, kejatuhan Greenalnd tinggal tunggu waktu.
Target berikutnya adalah Iran. Sama dengan Venezuela, Iran memiliki sumber daya alam yang melimpah, cadangan minyak terbesar ketiga di dunia setelah Venezuela dan Arab Saudi, dan bersahabat dengan Rusia dan Cina. Tujuan utama di Iran, musuh bebuyutan AS dan Israel, adalah penggantian rezim (regime change), tapi tak bisa dinafikan munculnya rezim baru pro-AS di Iran akan memberi keuntungan strategis ekonomi dan militer AS vis a vis Cina-Rusia.
Setelah kehilangan minyak Venezuela dalam jumlah besar, kehilangan minyak Iran akan lebih jauh melemahkan posisi global Cina karena ketergantungannya yang makin besar pada AS demi kelangsungan pertumbuhan ekonominya. Ini juga akan meningkatkan bargaining chip Washington vis a vis Beijing. Alhasil, AS akan lebih berdaya dalam membendung perkembangan Cina.
Rusia juga akan cemas dengan perkembangan ini. Bersama Cina, Rusia berkepentingan menjaga kelangsungan hidup rezim mullah. Regime change di Iran akan membuka pintu bagi tekanan AS dari selatan ke Asia Tengah, wilayah yang dipandang Rusia sebagai lingkungan pengaruhnya sebagaimana AS bagi Amerika Latin.








